adha panca wardanu

Statistik Blog

  • 363,965 hits

Tweet

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Jalan Terjal Menuju Industri Hilir Sawit

Industri sawit sangat strategis dan berperan besar dalam perekonomian nasional. Indonesia memproduksi 47 persen dan Malaysia 39 persen dari minyak sawit dunia (Oil World, November 2010). Namun, industri hilir minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kita kalah telak dari Malaysia. Ekspor produk hilir CPO Indonesia hanya 40%, sedang Malaysia mencapai 70% dari CPO yang dihasilkan.
Industri sawit nasional rentan terhadap gejolak harga CPO internasional. Petani sawit pun merasakan dampaknya. Karena itu, program pembangunan industri hilir sawit sangat strategis. Indonesia butuh tambahan 100 unit pabrik pengolahan sawit berkapasitas masing-masing 30 ton tandan buah segar (TBS) per jam (KONTAN, 3 Desember 2010). Berapa besar potensi sawit? Apa problemnya? Adakah korelasinya dengan kesejahteraan petani sawit?


Sejak dua tahun lalu minyak sawit telah menguasai pasar minyak nabati dunia. Pangsa pasarnya 27% pada 2008 menjadi 30% pada 2010. Produktivitas sawit mencapai 3 ton per hektare (ha) per tahun, jauh lebih tinggi dari kedelai sebesar 0,3 ton per ha per tahun. Biaya produksi minyak sawit sangat kompetitif.
Untuk keperluan pangan dan nutraseutikal, kelebihan minyak sawit ialah tinggi mikronutriannya, terutama karotenoid atau pro vitamin A (500-700 part per million atau ppm), tokoferol atau vitamin E (1000 ppm). Pengunaannya sangat luas. Di bidang pangan sebagai minyak goreng, shortening, margarin, pensubstitusi lemak coklat, dan sebagainya. Dalam industri oleokimia, minyak sawit digunakan untuk stearin, sabun, deterjen, pelumas, dan kosmetika. Belum lagi potensi pemanfaatan biji, sabut, tandan kosong, dan batang pohon sawit.
Meski Indonesia penghasil CPO terbesar, kebanyakan diekspor berbentuk CPO atau diolah menjadi minyak goreng. Perusahaan minyak goreng sibuk “mengelabuhi” konsumen. Proses produksinya diklaim “menghasilkan” produk mengandung asam lemak tak jenuh, beta-karoten, vitamin E, totrienol, dan asam lemak omega-9. Padahal komponen itu secara alami ada pada produksi minyak sawit. Bukankah lebih baik perusahaan meneliti produk turunan CPO yang nilainya lebih tinggi?.
Lambannya hilirisasi industri sawit nasional bukan hanya tanggung jawab perusahaan sawit. Banyak faktor yang berpengaruh.
Pertama, ketidakpastian hukum, tata ruang, dan perizinan pengembangan agroindustri nasional. Ini menyisakan masalah ketidakharmonisan antara pekebun sawit dengan masyarakat. Sengketa lahan masih terjadi. Jika tidak segera diselesaikan berpotensi menjadi bom waktu.
Kedua, lemahnya strategi pengembangan agroindustri dan kemampuan membangun industri hilir sawit. Regulasi pemerintah, komitmen lembaga pembiayaan, dan pelaku bisnis belum sinkron.
Ketiga, terbatasnya infrastruktur. Kondisi jalan di perkebunan, pabrik pengolahan, jalan raya menuju pelabuhan, bahkan pelabuhan timbun dan ekspor sawit masih sangat terbatas, terutama di Kalimantan. Ketersediaan energi listrik belum memadai. Ini pekerjaan besar pemerintah untuk percepatan industri hilir sawit.
Keempat, kurang tepatnya kultur teknis pemilihan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, panen, dan pasca panen. Adopsi teknologi pemeliharaan tanaman masih rendah. Akibatnya rerata produktivitas sawit Indonesia hanya 2,5 ton per ha per tahun, sedang Malaysia mencapai sekitar 4 ton per ha per tahun.
Kelima, terdera isu lingkungan. Konversi hutan dan lahan gambut menjadi kebun sawit diduga mengakibatkan kerusakan hutan, erosi, dan biodiversity. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan seperti Greenpeace gencar menuntut perkebunan kelapa sawit lestari. Akibatnya beberapa konsumen CPO menunda kontrak atau memutus pembelian. Lembaga keuangan internasional membatasi atau menghentikan pembiayaan sawit di Indonesia.
Keenam, minimnya jumlah dan pemanfaatan hasil riset minyak sawit dan turunannya oleh pengusaha. Mereka lebih tertarik investasi di perkebunan sawit karena hasilnya dapat diperoleh jangka pendek. Informasi komprehenship untuk mengokohkan strategi pengembangan industri sawit dari hulu hingga hilir belum digali.
Mewujudkan industri hilir
Jalan terjal pembangunan industri hilir sawit mutlak dilalui. Kita tak boleh puas sebagai penghasil CPO terbesar. Dengan membangun industri hilir akan membawa kesejahteran petani sawit dan masyarakat Indonesia. Perlu terobosan kebijakan dan teknis implementatif dari seluruh stakeholder.
Pertama, pemerintah perlu memberikan insentif bagi investor pengembang industri hilir sawit, misalnya melalui keringanan pajak. Insentif ini juga diberikan pada produsen CPO yang melakukan research and development untuk mempercepat pembangunan industri hilir sawit. Dengan tahapan yang jelas, pemerintah mutlak membangun infrastruktur pendukung. Aliansi strategis dengan Malaysia penting untuk menangkal isu negatif industri sawit dan persaingan dagang dengan minyak nabati lainnya. Hal ini mencairkan hubungan pengusaha dengan konsumen dan perbankan.
Kedua, perusahaan sawit perlu merespon tuntutan konsumen dengan standardisai mutu produk dan kelestraian lingkungan. Riset pendukung perkebunan, produksi CPO, dan industri hilir sawit mutlak dijalankan. Ini akan meningkatkan produktivitas kebun sawit, mengefisienkan proses produksi CPO dan industri hilir sawit. Integrasi vertikal perlu diprogramkan dengan baik. Program sosial di sekitar perkebunan dan industri sawit akan menciptakan kemitraan dengan masyarakat. Karakter perusahaan perkebunan profesional, seperti fleksibel, bervisi global, didorong inovasi, mampu bersaing sangat ketat, transparan, dan ramah lingkungan mutlak menjadi budaya perusahaan.
Ketiga, stakeholder lainnya, seperti berbagai asosiasi bidang kelapa sawit nasional dapat bersatu padu berperan timbal balik dengan perusahaan sawit dan pemerintah. Pengembangan riset percepatan pembangunan industri hilir sawit dan upaya menangkal tuduhan negatif industri sawit perlu didukung bukti ilmiah.
Konsep pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan mutlak menjadi matra pengambilan kebijakan pembangunan industri hilir sawit. Sebagai salah satu pelaku bisnis, petani sawit tidak boleh diposisikan sebagai pemasok TBS murah. Selayaknya mereka ikut menikmati keberhasilan pengembangan industri hilir kelapa sawit Indonesia dengan profit sharing yang memadai. [cip/nok].

Sumber: Opini Sucipto, STP, MP
Dosen dan Peneliti Teknologi Industri Pertanian FTP-UB di Harian Kontan Jum’at (10/12/2010)

POTENSI PENGEMBANGAN BIOENERGI DI KALIMANTAN BARAT

Berdasarkan hasil evaluasi potensi sumber daya lahan untuk beberapa komoditas penghasil bioenergi, terdapat 76.475.451 ha lahan yang sesuai untuk kelapa sawit, kelapa, tebu, jarak pagar, kapas, ubi kayu, dan sagu. Penyebaran lahan terluas terdapat di Papua, Sumatra dan Kalimantan (Las dan Mulyani 2006). Namun komoditas penghasil bioenergi tersebut merupakan sumber bahan pangan, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, tebu, sorgum, dan sagu, sehingga sulit untuk bersaing dengan kebutuhan konsumsi pangan.

Kalimantan barat memiliki sumberdaya alam yang cukup berlimpah dan potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku bioenergi. Selain tanaman kelapa dan kelapa sawit yang subur tumbuh di wilayah kalimantan barat yang dapat di jadikan sebagai bahan baku biofuel (biodiesel), salah satu tanaman yang juga memiliki potensi sebagai sumber bahan baku bioenergi adalah tanaman Nipah (Nypa fruticans) yang dapat dijadikan sebagai bioetanol.
Tanamana nipah (Nypa fruticans) selama ini tumbuh liar di sekitar hutan mangrove di pesisir pantai maupun sungai. Secara agronomis, tanaman Nipah tumbuh subur di hutan daerah pasang surut (hutan mangrove) dan daerah rawa-rawa atau muara-muara sungai yang berair payau. Di Indonesia luas daerah tanaman nipah adalah 10% dari luas daerah pasang surut sebesar 7 juta ha atau sekitar 700.000 ha. Penyebarannya meliputi wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya (Rachman, 1992).

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kelapa Nypa menghasilkan 5 sampai 7 kali lebih banyak energi dibandingkan dengan spesies lain. Hasil dari satu hektar kelapa sawit Nypa dengan bantuan dari teknologi yang canggih dapat berkisar 4.000-16.000 liter etanol per sadap musim. Selain itu, Nipah memiliki kandungan gula yang tinggi (nira) yang bila dikonversi menjadi menjadi etanol/ Butanol memungkinkan untuk menghasilkan sebanyak 6.480-15.600 liter/ hari/ ha. Nilai konversi itu lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman tebu yang menghasilkan 5.000 – 8.000 liter per hektar (per tahun) atau tanaman jagung yang hanya menghasilkan 2.000 liter (per tahun) per hektar. Namun hal yang terpenting, dalam pemanfaatan nipah sebagai bahan baku bioenergi yaitu tidak akan menimbulkan konflik kepentingan seperti tanaman pangan pada umumnya.

Saat ini keberadaan tanaman nipah yang vegetasinya cukup berlimpah di Kalimantan barat belum di manfaatkan sama sekali untuk memproduksi etanol. Padahal, tanaman ini amat sangat melipnah di Indonesia karena tanaman ini umumnya tumbuh di pantai dan negara kita adalah salah satu negara dengan garis pantai terluas di dunia. Sejauh ini, pemanfaatan nipah oleh masyarakat kalimantan barat khususnya pesisir pantai dan sungai terbatas pada daun dan tulang daun (lidi), daun nipah yang telah tua banyak dimanfaatkan secara tradisional untuk membuat atap rumah yang daya tahannya mencapai 3-5 tahun. Daun nipah yang masih muda mirip janur kelapa, dapat dianyam untuk membuat dinding rumah. Di Sumatra, pada masa silam daun nipah yang muda (dinamai pucuk) dijadikan daun rokok. Kalaupun ada yang memanfaatkannya untuk gula nipah hanya untuk konsumsi sendiri, sehingga pemanfaatannya belum maksimal. Jika potensi nipah dioptimalkan untuk menghasilkan bioetanol, maka akan berdampak luas pada kehidupan masyarakat dan ketersediaan energi di kalimantan barat.

PEMANFAATAN TANAMAN NIPAH SEBAGI BAHAN BAKU BIOETANOL
Nipah merupakan salah satu spesies utama penyusun hutan mangrove dengan komposisi sekitar 30 %. Saat ini, Luas hutan mangrove Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar dan merupakan mangrove terluas di dunia melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha). Bila asumsi 30 % hutan mangrove sebagai hutan nipah, maka diperkirakan terdapat sekitar 0,75 -1,35 juta hektar hutan nipah di Indonesia.

Nipah merupakan salah satu spesies utama penyusun hutan mangrove dengan komposisi sekitar 30 %. Nira yang terdapat dalam pelepah nipah berdasarkan penelitian mengandung kadar gula (sucrose) berkisar antara 15 – 17 %. Dengan kandungan itu, maka nira nipah berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri bioetanol. Rata-rata setiap pelepah nipah menghasilkan nira sebanyak 0,5 per hari dalam satu tahun, setiap malay pohon dapat disadap hingga 3 bulan, dengan demikian rata-rata produktivitas tiap malay nipah adalah sebesar = 0,5 L/hari x 90 hari = 45 L/th. Jika jumlah pohon nipah yang efektif adalah 3000 pohon per hektar dan semakin rapat maka pohon nipah tidak akan menghasilkan mayang. Dalam suatu lahan pun biasanya tidak 100% pohon nipah menghasilkan mayang, biasanya sekitar 40% saja, dengan demikian , nira yang dihasilkan = 40% x 3000 x 45 L = 54.000 L/ha/th. Jika nira tersebut dimanfaatkan untuk produktipitas bioetanol, maka kemungkinan kadar alkohol yang dihasilkan adalah 6 – 7%, dengan demikian = 54.000 x 7 persen x 100/95 = 3.978 L/ha/th. Luas hutan Nipah di Indonesia sekitar 0,75 – 1,35 juta, maka Indonesia berpotensi menghasilkan bioetanol dari tanaman nipah = 4000 L/ha x 0,75 juta ha = 3000 juta Liter = 3 juta kL.

Berdasarkan hasil penelitian, Nira Nipah mampu menghasilkan tujuh jenis biofuels ethanol yang menjadi bahan bakar nabati menggantikan bahan bakar fosil. Ketujuh jenis biofuels ethanol mangrove nipah tersebut diantaranya Bioethanol Nipah kadar 100 persen, Biokerosin nipah kadar 70 persen, Biopertamax nipah 95 persen Pertamax plus lima persen ethanol, Biopremium e20 nipah 80 persen bensin plus 20 persen ethanol, biopremium e85 nipah 25 persen bensin plus 85 persen ethanol, Biodiesel serta Gliserin Biodiesel Nipah plus CPO. Produk hasil olahan nipah tersebut diantaranya bioethanol kadar 100 persen dan bioethanol kadar rendah 70 persen sebagai biokerosin sebagai pengganti minyak tanah yang memiliki keunggulan api biru. Minyak ini lebih irit 1:6 cepat panas/masak, tidak meledak layak tabung elpiji. Bioethanol 100 persen di subtitusikan dengan bahan bakar fosil E 10 – 20 ke primium (bensin) menjadi Bio premium yang memiliki keunggulan bahan bakar berkadar oktan tinggi dan ramah lingkungan, serta produk jenis Bioethanol 100 persen yang di subtitusikan dengan bahan bakar pertamax E 5 menghasilkan produk biopertamax salah satu bahan bakar yg memiliki keunggulan bahan bakar berkadar oktan tinggi dan ramah lingkungan. Ada juga menghasilkan produk biodiesel yang berfungsi menggantikan solar.

Seiring dengan menipisnya cadangan energi BBM dan target diversifikasi 5 % pada tahun 2025, maka nipah dapat menjadi alternatif yang penting sebagai bahan baku pembuatan ethanol (bahan pencampur BBM). Berbeda dengan tanaman lain yang sama-sama menghasilkan nira atau pati, tanaman nipah ini jelas menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut karena pelepah bermayang atau manggar pohon nipah berada tak jauh dari permukaan tanah sehingga tidak perlu memanjat untuk memperoleh niranya seperti pada tanaman palma yang lain. Selain itu juga, pohon nipah umumnya tumbuh di daerah yang tidak produktif untuk budidaya lainnya dan tumbuh di daerah yang memudahkan pengangkutan lewat perairan serta pemanfaatan nipah sebagai bahan baku bioenergi yaitu tidak akan menimbulkan konflik kepentingan seperti tanaman pangan pada umumnya.

Pemanfaatan bietanol sebagai bahan bakar nabati menunjukan kecendrungan yang semakin meningkat. Permintaan etanol AS sendiri berdiri pada 22 miliar liter tahun lalu, dan bahwa biofuel diperkirakan akan memberikan 30% dari energi global pada tahun 2020. Amerika Serikat adalah produsen ethanol terbesar di dunia, dan Brasil adalah eksportir etanol terbesar di dunia. Pada tahun 2005 brasil telah memproduksi 16,6 miliar liter ethanol dan sekitar 80% nya (13,4 miliar liter ) digunakan sebagai bahan bakar (biofuel). Menurut Asosiasi Bahan Bakar Terbarukan, ada 106 pabrik ethanol sudah beroperasi di AS, dan 48 pabrik tambahan yang sedang dalam tahap pembangunan, serta tujuh pabrik yang mengalami perluasan. Dengan demikian prospek penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar masa depan kemungkinan akan terus meningkat seiring terjadinya peralihan penggunaan bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan. Ditambah dengan kelebihan dari bioetanol yang ramah lingkungan. Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar telah disetujui setiap produsen mobil utama di dunia dengan formulasi E – 10 Unleaded (10% ethanol/90% bensin tanpa timbal biasa). Selain itu, Penggunaan etanol-bensin dicampur membantu mengurangi tingkat ozon troposfer.

Pengembangan bioetanol dari nipah sudah saatnya untuk dipertimbangkan sebagai sumber energi alternatif masa depan. Namun sayang penelitian mengenai bioetanol nipah di Indonesia masih sangat sedikit, kalah dibandingkan negara Malaysia. Di Malaysia, pemanfaatan nira nipah sudah sangat gencar dilakukan. Bahkan mereka menobatkan diri sebagai negara pertama di dunia yang memproduksi bietanol dari nipah secara komersial dan dalam waktu dekat akan segera mematenkan alur produksi bioetanol dari nipah. Indonesia seharusnya bisa lebih maju dalam pengembangan bioenergi mengingat begitu banyaknya potensi sumberdaya alam yang dimiliki dan tersebar di seluruh kepulauan indonesia salah satunya Kalimantan barat.

Di Kalimantan barat hampir setiap pinggir sungai diwilayah pesisir ditumbuhi pohon Nipah yang sangat subur dan rapat sehingga sulit untuk ditembus. Vegetasi tumbuhan tersebut hanya hidup dan berkembang di daerah air payau atau lebih dikenal dengan mangrove. Hutan Nipah yang tersebar hampir sepanjang pantai Kalimantan Barat tentunya menjadi potensi yang cukup besar bagi penyediaan bahan bakar nabati maupun penyerapan tenaga kerja setempat.

Biofuel ethanol berbasis kearifan ekosistem jutaan hektare hutan mangrove nipah di pesisir-pantai diharap memberikan kontribusi nyata, karena memiliki nilai lebih dibandingkan komoditi tanaman energi lain. Eksploitasi sumberdaya yang ada untuk produksi etanol secara berkelanjutan dapat menjadi strategi yang bagus untuk memberikan penghasilan tambahan untuk komunitas mangrove, yang sering hidup dalam kemiskinan.
.

BIOENERGI SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF MASA DEPAN

Bioenergi merupakan energi alternatif yang berasal dari sumber-sumber biologis. Keunggulan pemanfaatan bioenergi ini adalah meningkatkan kualitas lingkungan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. 

Saat ini pengembangan bioenergi telah sampai pada generasi keempat yakni mengubah vegoil dan biodiesel menjadi gasoline. Generasi pertama pengembangan bioenergi ini dinilai kurang etis karena berkompetisi dengan bahan pangan dan pakan menjadi vegetable oil, biodiesel, bio-alcohol, biogas, solid biofuel, dan syngas. Pemanfaatan bahan diluar pangan dan pakan dimulai pada generasi kedua diantaranya menggunakan limbah, cellulose dan tanaman yang didedikasikan untuk pengembangan energi (dedicated energy crops), yang mengubah biomass menjadi liquid technology. Generasi ketiga pengembangan biofuel adalah oligae yang berasal dari algae. Selain itu, Pemanfaatan bioenergi saat ini bahkan telah sampai pada pengembangan bahan bakar pesawat terbang. The Embraer EMB 202 Ipanema merupakan pesawat pertama yang berbahan bakar ethanol dan banyak dimanfaatkan di lahan pertanian (agricultural aircraft). Selain itu, telah dikembangkan juga syngas berbahan dasar kayu yang dimanfaatkan sebagai generator.

Pada tahun 2005 negara di belahan Amerika Selatan telah memproduksi 16.3 milyar liter ethanol, menyumbang 33.3 persen produksi dunia dan 42 persen produksi ethanol yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Negara yang telah menggunakan BE 10 (campuran 10% ethanol dan 90% BBM), diantaranya AS, Kanada, India, Thailand, China, Filipina dan Jepang. Hanya Brasil yang telah menggunakan BE 20. Adanya teknologi hybrid saat ini, Brazil tidak ada lagi kendaraan yang hanya menggunakan gasoline tetapi telah memakai 20-25 % ethanol (E25). Dari data yang didapatkannya, sebanyak 3 juta mobil telah beroperasi menggunakan 100 % ethanol dan 6 juta mobil berteknologi hybrid (flexible-fuels vehicles).

Langkah-langkah antisipatif juga telah dilakukan negara-negara maju untuk menghadapi krisis energi dimasa yang akan datang dengan cara mengarahkan kebijakan energi strategis untuk beralih dari energi fosil ke energi terbarukan terutama bioenergi. Pemerintah Australia mengatur kebijaksanaan pemakaian biofuel untuk transportasi,industri serta pembangkit tenaga listrik. Di USA, akhir 2005 produksi Biodiesel AS mencapai 4 miliar galon dan akan meningkat menjadi 8 miliar galon pada 2012. Selain itu, pada tahun 2005 Belanda juga mengambil kebijaksanaan untuk impor 400 ribu ton kelapa sawit dari Indonesia untuk dikonversi menjadi biodiesel. Selain negara-negara tersebut diatas, Indonesia juga mengeluarkan kebijakan melalui Instruksi Presiden RI No.1 Tahun 2006, Untuk mendorong Departemen Pertanian melakukan penyediaan dan pengembangan bahan baku BBN untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Pada tahun pada tahun 2025, pemerintah Indonesia menargetkan penggunaan biofeul sebesar 5 %.

PENGEMBANGAN BIOENERGI DI INDONESIA
Pemanfaatan energi alternatif yang gencar digalakkan akhir-akhir ini bukan tanpa alasan. Pada tahun 2010, diperkirakan sebesar 23 Juta kL bensin diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun pertamina hanya mampu memasok sekitar 16 Jt kL/tahun dan cenderung konstan, padahal setiap tahun kebutuhan masyarakat terus meningkat sebesar 10 %. Akibatnya, pemerintah kewalahan memenuhi kebutuhan bensin dalam negeri. Selain itu, semakin menipisnya persediaan bahan bakar fosil dan emisi karbon juga menjadi salah satu pendorong utama.

Berdasarkan hasil kajian Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) paling mutakhir tentang kondisi energi di Indonesia. Jika tidak ada eksplorasi baru, menurut kalkulasi ESDM, cadangan minyak bumi sekitar 9,7 barel dan diperkirakan akan habis 15 tahun lagi. Untuk cadangan batubara kita sekitar 50 miliar ton (3% potensi dunia) diperkirakan dapat digunakan sedikitnya 150 tahun mendatang. Untuk cadangan panas bumi sekitar 27 ribu MW (40% potensi dunia) dan gas 60 tahun lagi. Sedangkan untuk Tenaga air sekitar 75 ribu MW (0,02% potensi dunia). Jika pemerintah tidak berinisiatif mencari bahan terbarukan, maka negeri ini akan semakin terpuruk dalam hal pemenuhan energi. Terjadinya krisis energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) yang diinduksi oleh meningkatnya harga BBM dunia telah membuat Indonesia perlu mencari sumber-sumber bahan bakar alternatif yang mungkin dikembangkan di Indonesia.

Indonesia sebagai salah satu negara tropis yang memiliki sumberdaya alam yang sangat potensial. Usaha pertanian merupakan usaha yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia karena Indonesia memiliki potensi sumber daya lahan, agroklimat dan sumber daya manusia yang memadai. Kondisi iklim tropis dengan curah hujan yang cukup, ketersediaan lahan yang masih luas, serta telah berkembangnya teknologi optimalisasi produksi dapat mendukung kelayakan pengembangan biofuel (bioenergi).

Biofuel adalah bahan bakar dari sumber hayati (renewable energy). Biofuel, apabila diartikan untuk pengganti BBM, maka biofuel merupakan salah satu bentuk energi dari biomassa dalam bentuk cair, seperti biodiesel, bioethanol dan biooil. Di Indonesia ada 49 jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Beberapa tanaman yang potensial sebagai penghasil bioenergi adalah kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kapas, kanola, dan rapeseed untuk biodiesel, serta ubi kayu, ubi jalar, tebu, sorgum, sagu, aren, nipah, dan lontar untuk bioetanol (Sumaryono 2006). Selain potensial sebagai penghasil bioenergi, beberapa komoditas tersebut, seperti kelapa sawit, kelapa, kapas, ubi kayu, tebu, dan sagu, juga merupakan komoditas sumber bahan pangan dan pakan. Pengembangan komoditas sumber bahan pangan sebagai bahan baku bioenergi dipandang kurang etis karena berkompetisi dengan bahan pangan dan pakan.

Agar target diversifikasi energi tahun 2025 mendatang yang meningkatkan porsi energi terbarukan menjadi 5 % dari total kebutuhan energi nasional perlu dirintis dari sekarang. Jika saat ini 23 Juta kL bensin diperlukan maka setidaknya 1,15 juta kL bioetanol perlu diproduksi. Saat ini bioetanol yang diproduksi baru mencapai 187.800 kL/tahun atau baru 16 % dari target seharusnya. Untuk itu Indonesia memang perlu usaha keras untuk mencapainya. Pengembangan Etanol sebagai bahan bakar telah dilakukan BBPT dengan telah memiliki Pilot Plant Etanol berkapasitas 8000 liter per hari dengan kadar 99%. Hanya mampu memproduksi Fuel Grade Ethanol (FGE) 50 liter/ hari . Satu unit mesin FGE dengan kapasitas 60 kilo liter/ hari memerlukan investasi sekitar 7,5 juta USD. Kebutuhan mendesak masyarakat terhadap kecukupan energi yang berkelanjutan tentunya menjadi pertimbangan yang cukup bagi pemerintah dalam memutuskan kemana bangsa ini akan menggantungkan kebutuhan energinya di masa yang akan datang.

Konsep Probiotik Dan Prebiotik Untuk Modulasi Mikrobiota Usus Besar

Oleh : Johan S. Lisal
Usus besar merupakan suatu mikroekosistem yang sangat kompleks, yang sarat dengan kolonisasi lebih 400 spesies dari sekurang-kurangnya 50 genera bakteri. Bakteri-bakteri ini dapat bersifat potensial penyebab efek patogenik atau efek promotif bagi kesehatan atau keduanya. Bakteri-bakteri ini berkompetisi dan berinteraksi dalam proses fermentasi substrat yang sampai ke kolon, dan menghasilkan bahan-bahan toksik atau promotif bagi kesehatan. Kelangsungan hidup, kompetensi metabolik, dan predominasi satu jenis bakteri dalam kolon sangat bergantung atas berbagai faktor, dan yang terpenting adalah tersedianya substrat yang selektif.
Dalam hal ini telah dikembangkan KONSEP PROBIOTIK dan PREBIOTIK, yang merupakan 2 mekanisme alternatif untuk modulasi pertumbuhan mikrobiota selektif dalam kolon ke arah yang menguntungkan kesehatan hospes, baik melalui pemberian fortifikasi dengan bakteri tertentu dalam makanan (PROBIOTIK), atau penggunaan diit khusus sebagai substrat selektif (PREBIOTIK), maupun kombinasi keduanya (SINBIOTIK). Telah diuraikan berbagai aspek penting dari Bifidobakteri sebagai bahan probiotik, dan substrat NDO (khususnya FOS) sebagai bahan prebiotik yang utama saat ini.(J Med Nus. 2005;26 : 256-262) Jurnal Konsep Probiotik dan Prebiotik

TEKNOLOGI PEGOLAHAN PANGAN TEPAT GUNA DI TINGKAT RUMAH TANGGA DALAM RANGKA PERCEPATAN DIVERSIFIKASI PANGAN

Oleh : ULIYANTI, S.TP

I. TEKNOLOGI PENGOLAHAN TEPUNG BERBASIS UMBI-UMBIAN

Di Indonesia banyak sekali produk-produk pangan yang berbahan dasar atau dibuat dari tepung. Banyak jenis makanan tradional terbuat dari tepung terigu. Hal ini menyebabkan konsumsi terigu sangat besar. Ketergantungan orang untuk menkonsumsi terigu atau gandum sangat tinggi. Hal ini yang menyebabkan nilai impor terigu Indonesia selalu meningkat tipa tahunnya. Walaupun terigu atau pun gandum tidak dapat diproduksi di Indonesia bukan berarti kita tidak dapat menghasilkan tanaman yang bias dijadikan tepung.

Banyak jenis tepung yang dapat dihasilkan dari tanaman-tanaman sumber pati seperti umbi-umbian. Tepung dari umbi-umbian seperti tepung ubi jalar, tepung talas, tepung singkong dll. Dengan penemuan-penemuan tentang tepung di Indonesia akan dapat menggantikan dominasi terigu di dalam pengolahan produk pangan. Selain itu, pengolahan jenis-jenis dari berbagai sumber tanaman penghasil karbohidrat, ditujukan untuk penanganan hasil panen melalui diversifikasi produk olahan.

Tepung merupakan bahan kering yang berbentuk powder, termasuk di dalamnya pati, agar, keragenan, gum dan lai-lain. Jadi tepung merupakan bahan yang dikeringkan, selanjutnya dikecilkan ukurannya hingga berbentuk powder, untuk keseragaman ukuran powder tersebut diayak dengan ayakan sesuai dengan keinginan, biasanya produk tepung lolos ayakan 60 mesh.

Pada dasarnya pengolahan tepung adalah mengerikan seluruh bahan yang hendak ditepungkan selanjutnya bahan kering tersebut dihaluskan, diayak sehingga diperoleh bubuk.

Langkah pertama yang biasa dilakukan adalah blanching atau pengukusan, tujuanya adalah untuk inaktivasi enzim, dan melunakan bahan sehingga mdah pada waktu pengecilan ukuran. Pengecilan ukuran ini tujuanya adalah untuk memperluas permukaan sehingga mempercepat proses pengeringanya.

Pengolahan Tepung Talas (keladi)

Keladi sangat potensial untuk diolah menjadi tepung dilihat dari komposisi kimianya. Kandungan mineral yang cukup tinggi merupakan nilai tambah tersendiri. Pengolahan tepung keladi dapat dilakukan bernagai macam cara, bias di blanching terlebih dahulu sebelum pengecilan ukuran dan pengeringan untuk inaktivasi enzim atau bias juga langsung. Untuk memperbaiki kualitas tepung yang dihasilkan bahan sebelum dikeringkan bias direndam dengan sulfit untuk mempertahankan kualitas warna. Untuk peningkatan kualitas gizi bias dilakukan fortifikasi dengan penambahan zat gizi tertentu.
Tepung keladi dapat dimanfaatkan sebagai tepung pengganti untuk produk olahan dengan bahan dasar tepung seperti mie, cake, biscuit dll. Adapun pengolahan tepung keladi sebagai berikut :
1. Siapkan umbi keladi yang akan diolah menjadi tepung.
2. Kupas kulitnya dan rendam kedalam air garam untuk menghilangkan lendirnya.
3. Potong/iris menjadi bagian yang agak kecil kemudian dikeringkan untuk dibuat gaplek keladi.
4. setelah kering dilakukan penghancuran dengan cara menggilingnya dengan mesin hammer mill.
5. Untuk diperoleh tepung yang halus dilakukan dengan pengayakan dengan saringan plastic atau ayakan yang lain.
6. Produk yang diperoleh dikemas dalam kantong plastik.

Pembuatan Mie Dari tepung Keladi
1. Siapkan bahan-bahan pembuat mie yaitu tepung keladi, tepung terigu, air garam, telur, soda abu Na-benzoat.
2. Aduk bahan-bahan dengan menggunakan mixer agar tercampur rata.
3. Adonan yang telah jadi masukkan ke dalam mesin pencetak mie (roll press).
4. Juntaian-juntaian mie yang terbentuk dipotong sesuai keinginan.

II. MINUMAN PROBIOTIK SARI NANAS

Banyak orang yang sering mendengar tentang bahan pangan fungsional, tetapi kurang memahami apa sebenarnya bahan pangan fungsional itu sendiri. Pangan fungsional berbeda dari food supplement (suplemen pangan). Pangan fungsional adalah pangan yang secara alamiah maupun yg telah melalui proses pengolahan, mengandung satu atau lebih komponen yg berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yg bermanfaat bagi kesehatan, disajikan dan dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman dan memiliki karakteristik sensori seperti penampakan, warna, tekstur atau konsistensi dan citarasa yang dapat diterima konsumen.
Salah satu bahan pangan fungsional yang dapat menjaga kekebalan tubuh adalah makanan atau minuman probiotik. Dengan mengkonsumsi makanan atau minuman probiotik , maka keseimbangan flora usus akan terpelihara, serta akan diperoleh manfaat antara lain :

1. Membantu membersihkan saluran cerna dan memproduksi vitamin.
2. Bakteri probiotik dapat menjaga fungsi hati sebagai penyerap racun dan toksin yang dihasilkan oleh bakteri patogen.
3. Bakteri probiotik dapat mengontrol jumlah kolesterol dalam darah yang dapat menyebabkan serangan jantung dan gangguan pembuluh darah.
4. Bakteri probiotik juga dapat menyehatkan usus dengan menjaga pH agar tetap stabil 4,5-5,5.
5. Bakteri probiotik dapat mengaktifkan sel darah putih serta limpa yang bertanggung jawab terhadap sistem pertahanan tubuh.

Pembuatan Minuman Probiotik Sari Nanas

Nanas banyak disukai oleh masyarakat, hal ini dapat dilihat dari berbagai macam diversifikasi produk yang menggunakan bahan baku nanas seperti sari buah nanas, manisan nanas, jam, jelly, chip, dan produk kalengan. Nanas merupakan salah satu komoditi unggulan provinsi Kalimantan Barat.
Menurut Kayser, nanas segar mengandung zat padat 16,72%, asam citrate 0,63%, gula invert 4% dan sakrosa sekitar 8,6 gram/100cc. Buah mengandung manitol +1% asam terdiri dari sitrat dan malat (13% dari keseluruhan sitrat) zat warna karotine (1,5-2,5 mg/kg) (Johtara Sibarani, 2008).

Tahap Pembuatan Sari Buah Nanas
1. Sortasi dan pencucian
Buah nanas disortasi untuk dipilih yang baik dan segar lalu bersihkan kulitnya yang kasar serta dihilangkan mata yang ada pada daging buah dan dilanjutkan dengan pencucian untuk menghilangkan kotoran.
2. Pemotongan
Buah nanas dipotong-potong, untuk memudahkan dalam proses penghancuran.
3. Penimbangan
Buah nanas ditimbang sesuai dengan kebutuhan.
4. Proses Blanching
Blanching dilakukan menggunakan uap air mendidih suhu 80ºC selama 5 menit. Tujuannya untuk menonaktifkan enzim. Selai itu blanching juga berfungsi mengeluarkan gas dalam pori-pori sel, serta memperbaiki warna dan cita rasa.
5. Penghancuran
Buah nanas dihancurkan atau dihaluskan dengan blender selama 2 menit. Penghancuran dilakukan dengan penambahan air dengan perbandingan air dengan berat buah nanas 1:1.
6. Disaring
Slurry dari buah nanas yang terbentuk disaring dengan menggunakan kain saring untuk memisahkan filtrat atau sari buah nanas dari padatan dan dihasilkan sari buah nanas.

Pembuatan Minuman Probiotik Sari Buah Nanas
1. Penambahan bahan
Sari buah nanas ditambah dengan bahan tambahan lain yaitu : laktosa dan sabilizer CMC. Penambahan bahan-bahan ini untuk menambah total padatan, membentuk tekstur yang bagus, membentuk cita rasa dan aroma, memberi tambahan bagi nutrisi dan memperbaiki kualitas akhir serta tingkat penerimaan konsumen.
2. Homogenisasi
Homogenisasi dilakukan menngunakan hot plate pada suhu 65ºC selama 5 menit. Homogenisasi bertujuan agar bahan-bahan bercampur merata dan homogen yang akan memperbaiki kualitas akhir dan kenampakan.
3. Pemanasan
Pemanasan dilakukan pada suhu 85ºC selama 15 menit. Pemanasan bertujuan untuk mematikan bakteri patogen.
4. Pendinginan dan Inokulasi
Pendinginan bertujuan untuk memberikan kondisi yang optimum bagi pertumbuhan bakteri Lactobacillus casei.Dan tambahkan dengan bibit Lactobacillus casei (jika tidak ada dapat diganti yoghurt).
5. Inkubasi atau Pemeraman
Inkubasi dilakukan pada suhu 37ºC selama 2-3 hari.
6. Pengemasan

III. FISH NUGGET (NUGGET IKAN)

Nugget merupakan salah satu produk olahan daging beku. Produk ini mempunyai daya simpan yang cukup lama, dengan penyimpanan dalam freezer bisa mencapai 2 minggu. Daging yang digunakan sebelumnya harus digiling, sehingga memudahkan untuk dibentuk pada tahapan berikutnya.
Bahan utama yang digunakan adalah ikan, yang akan memberikan tekstur produk yang diinginkan, karena mempunyai kandungan protein miofibril. Bahan pendukung lain, yaitu garam, air, bahan pengisi (filler), emulsifier, dan bumbu-bumbu. Garam berfungsi meningkatkan kelarutan, karena protein miofibril yang ada pada daging hanya larut pada larutan garam. Air berguna untuk memberikan sifat berair dan juga meningkatkan rendemen. Bahan pengisi dan emulsifier yang digunakan pada produk ini adalah tepung tapioka dan kuning telur yang berfungsi untuk mengikat air maupun lemak. Bumbu-bumbu berupa merica dan bawang putih selain memberikan bau dan rasa yang khas, juga mampu memperpanjang umur simpan.

Bahan-bahan :
 Ikan giling (misal ikan tengiri) 500 g
 Tepung tapioka 75 g
 Tepung bumbu 25 g
 Bawang putih (halus) 5 – 7,5 g
 Merica halus 4 – 5 g
 Garam 5 – 7,5 g
 Telur 3 butir
 Air (susu cair) 100g
 Tepung panir

Alat-alat :
 pisau – penggorengan
 waring blender – wadah plastik
 loyang – sendok
 kompor – plastic

Proses Pembuatan Nugget Ikan
1. Pengolahan ikan
 Ikan dicuci dengan air bersih kemudian disiangi dengan cara membuang sisik, isi perut dan insangnya.
 Ikan dicuci bersih dengan air dingin
 Ambil bagian daging ikan dengan cara memfilet ikan. Letakkan ikan pada posisi miring, dengan pisau tajam potonglah daging ikan dari pangkal insang sampai ke tulang. Kemudian daging ikan disayat sampai ke ekor hingga daging terlepas dari tulang (agar tidak banyak daging yang terbuang, pisau agak ditekan) . Balikkan ikan dan kemudian sayat dagingnya dari pangkal ekor ke arah kepala. Sisa daging pada pangkal tulang belakang dapat dikerok dengan pisau atau sendok.
 Pisahkan kulit dan bagian daging yang berwarna hitam dari daging ikan.
 Filet ikan yang diperoleh dicuci dari kotoran dan darah yang melekat dengan mencucinya dengan air yang ditambahkan es batu.
 Memotog filet ikan kecil-kecil untuk memudahkan pelumatan
 Mencuci kembali potongan-potongan filet cuci kembali untuk membersihkan darah atau kotoran yang masih menempel dan ditiriskan
 Melumatkan filet dengan alat meat separator (dapat diulang 2-3 kali sampai serat daging ikan dan duri terpisah semua)
2. Pembuatan nugget
 Gilingan ikan yang telah halus dicampur dengan bumbu-bumbu yang juga telah dihaluskan.
 Adonan yang telah tercampur rata ditempatkan pada loyang setebal 1 cm, yang telah dialasi plastik, adonan diratakan dan ditutp dengan plastik kemudian dikukus 30 – 45 menit, untuk memungkinkan terjadinya gelatinisasi dan mematangkan adonan.
 Adonan yang telah dikukus didinginkan kemudian dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang diinginkan
 Adonan yang telah dipotong-potong dimasukkan pada putih telur kemudian digulirkan pada tepung panir, hal ini untuk membentuk suatu permukaan adonan yang lebih baik.
 Nugget yang telah dihasilkan dapat disimpan pada freezer apabila tidak segera digoreng supaya lebih awet dan teksturnya menjadi lebih renyah.
 Penggorengan dilakukan untuk mematangkan adonan.

Teknologi Pengolahan Tepat Guna Kedelai

TEKNOLOGI PENGOLAHAN KEDELAI

1. Komoditas Kedelai
Komoditas kedelai (Glycine max) merupakan salah satu jenis tanaman penting yang telah lama dibudidayakan di Indonesia. Kedelai yang termasuk dalam kategori tanaman palawija merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup penting dalam upaya mengatasi KKP (kekurangan kalori dan protein), oleh karena mengandung asam amino esensial yang lebih lengkap. Tanaman kedelai ternyata dapat dikembangkan dengan baik di daerah kering. Pembudidayaan di lahan persawahan biasa dilakukan sebagai salah satu rotasi (pergiliran) tanaman setelah tanaman padi.

2. Komposisi Kimia Kedelai
Ditinjau dari segi pangan dan gizi, kedelai merupakan bahan pangan yang sangat vital dan sebagai sumber protein yang murah serta sumber minyak (makan) yang bermutu. Berbagai varietas unggul kedelai Indonesia ternyata memiliki kadar protein 30% (Lokon) sampai 44% (Galunggung) dan kadar lemak 9,3% (Merapi) – 19,9% (Galunggung). Komposisi kimia bagian- bagian biji kedelai secara umum mengandung sekitar 9% air, 35% protein, 18% lemak, 3,5% serat, 7% gula dan sekitar 18% zat lainnya.

a. Protein
Kedelai mengandung protein sekitar 38%, bahkan ada yang mencapai 40% – 44%. Protein kedelai sebagian besar adalah globulin. Asam amino pada biji kedelai relatif lebih lengkap dan seimbang apabila dibandingkan bijian yang lain, bahkan protein kedelai mengandung asam amino sistin lebih banyak jika dibandingkan dengan susu. Ilustrasi tentang asam amino esensial pada biji kedelai dibandingkan bijian lain, susu dan telur.

b. Lemak
Secara umum ternyata biji kedelai mengandung lemak sekitar 18 – 20% dan 85% terdiri dari asam lemak tak jenuh, sehingga minyak kedelai lebih disukai dari pada minyak kelapa atau kelapa sawit. Disamping berbagai senyawa fosfolipida penting juga terdapat dalam lemak kedelai seperti lesitin, sepalin dan lipositol. Minyak kedelai mengandung lemak tidak jenuh (85%) terdiri dari asam linoleat (25-64%), asam oleat (11-60%), asam linolenat (1-12%) dan asam lemak tidak jenuh lainnya sekitar 2%. Asam lemak jenuh yang terdapat dalam minyak kedelai (15%) terdiri atas asam palmitat (7-10%), asam stearat (2-5%), asam arakhidat (0,2 – 1%) dan sedikit asam laurat (0,1%).

c. Karbohidrat, Vitamin dan Mineral
Kedelai mengandung karbohidrat sekitar 35% dimana hanya 13% saja yang dapat dimanfaatkan tubuh. Komponen utama terdiri: hemiselulosa (15%), selulosa 4%) dan sisanya karbohidrat lain. Kedelai merupakan sumber vitamin B (B1, B2, piridoksin. masin), inositol, kholin, vitamin E dan K serta banyak mengandung kalsium dan fosfor.

d. Faktor Penghambat
Salah satu kelemahan pada kedelai adalah kandungan zat inti gizi, penyebab bau dan rasa kacang yang tidak enak (beany flavor).
Cara menghindari bau akibat biji terluka atau rusak dengan menjaga agar tidak mengalami kerusakan mekanis melalui pemanasan (pengukusan atau perebusan). Klik Di Sini Untuk Download Makalah Lengkap

Antioksidan Alami : Sumber dan Manfaatnya

Antioksidan alami di dalam makanan dapat berasal dari (a) senyawa antioksidan yang sudah ada dari satu atau duakomponen makanan, (b) senyawa antioksidan yang terbentuk dari reaksi-reaksi selama proses pengolahan, (c) senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami dan ditambahkan ke makanan sebagai bahan tambahan pangan.

Kebanyakan senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami adalah berasal dari tumbuhan. Isolasi antioksidan alami telah dilakukan dari tumbuhan yang dapat dimakan, tetapi tidak selalu dari bagian yang dapat dimakan.

Antioksidan alami tersebar di beberapa bagian tanaman, seperti pada kayu, kulit kayu, akar, daun, buah, bunga, biji, dan serbuk sari.

Senyawa antioksidan alami tumbuhan umumnya adalah senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golonganflavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organic polifungsional. Golongan flavonoid yangmemiliki aktivitas antioksidan meliputi flavon,flavonol, isoflavon, kateksin, flavonol dan kalkon. Sementara turunan asamsinamat meliputi asam kafeat, asam ferulat, asam klorogenat, dan lain-lain.

Senyawa antioksidan alami polifenolik iniadalah multifungsional dan dapat beraksi sebagai (a) pereduksi, (b) penangkap radikal bebas, (c) pengkelat logam, (d)peredam terbentuknya singlet oksigen. Kira-kira 2 % dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuhan diubah menjadi flavonoid atau senyawa yang berkaitan erat dengannya, sehingga flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam terbesar. Sebenarnya flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan hijau, sehingga pastilah ditemukan pula pada setiap telaah ekstrak tumbuhan. Golongan flavonoid dan senyawa yang berkaitan erat dengannya memiliki sifat-sifat antioksidan baik didalamlipida cair maupun dalam makanan berlipida.

Di samping itu ada banyak bahan pangan yang dapat menjadi sumber antioksidan alami, seperti rempah-rempah,dedaunan, teh, kokoa, biji-bijian, serealia, buah-buahan, sayur-sayuran dan tumbuhan/alga laut. Bahan pangan inimengandung jenis senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan, seperti asam-asam amino, asam askorbat, tokoferol,karotenoid, tannin, peptida, melanoidin, produk-produk reduksi, dan asam-asam organik lain.Pada bab ini akan dibahas beberapa macam antioksidan yang penting yaitu tokoferol, vitamin C, karotenoid, kelompokflavonoid dan fenolik.

%d blogger menyukai ini: