adha panca wardanu

Beranda » Catatan yang Tertinggal » Ketukan Suara Hati

Ketukan Suara Hati

Statistik Blog

  • 467,339 hits

Arsip

Go Green Indonesia

go green indonesia!
Iklan

Senandung rindu terpacu dalam dada menebarkan aroma kegelisahan yang tak tahu kemana akan ku cari obatnya. Jauh dari tiap sudut pandangku, terkadang ada serabut-serabut pikiran yang liar seperti kucing besar afrika yang siap berlari kencang melintasi padang rumput menerkam, mencakar mencabik dan mematikan tiap mangsanya. Darah-darah yang mengalir dalam tiap nadiku saling berebutan, berdesakan, menyebar ke seluruh tubuhku, jantungku terus memaksimalkan kerjanya untuk terus berdetak seperti waktu ke waktu yang terus berjalan yang menandakan bahwa kehidupan ini masih ada begitu juga jantung yang menjadi indicator eksitensi nyawa manusia. Angin yang membalut tubuh seakan tak lelah untuk menyelimuti ruang gelap yang ku tempati. Terkadang aku jengah dalam suasana gelap, aku bosan dengan segala kegelapan, aku risau dengan kemunafikan.

Otak dan hatiku berlari tak seiring meninggalkan keraguan yang tak dapat carikan jawaban yang tepat untuk menjawabnya. Lalu aku berusaha untuk mencari sebuah titik cahaya yang dapat menuntun aku keluar dalam ruang gelap dan sepi ini.

Jiwa-jiwa manusia yang tertawa dalam kebodohannya, berusaha tidak perduli dengan nasibnya yang tak menentu dalam titik persimpangan yang dapat dia lepas dari pilihan-pilihan hidup yang sulit. Aku tertawa dalam kegelapan. Semua terasa membosankan, menertawakan jiwa-jiwa kerdil yang tak percaya akan keindahan alam yang termaktub dalam sabda-sabda tuhan. Anomali yang terjadi dalam dunia ini hanyalah kepekaan alam yang terpaksa berkoar dalam ketikberdayaan merespon kerakusan manusia.

Hati gundah menghadapi tirani-tirani yang kokoh berdiri di depan mataku. Aku serasa kecil diantara besarnya genggaman kekuasaan yang tak berpihak. Kini aku berada diujung persimpangan yang aku pun tak tahu kemana harus melangkah. Lalu aku berjalan menelusuri lorong panjang yang gelap dan tak berujung, ku tatap tiap dinding lorong yang berhias ornament-oranamen tentang cerita anak manusia yang tak pernah menemukan jati dirinya dalam ke fanaan dunia.

Akhir sadarku, membuatku mengerti bahwa yang kualami adalah perjalanan yang panjang yang penuh jebakan yang siap menjerumuskan. Tak ada lagi yang bisa ku buat, kecuali tunduk pada aturan sang Khaliq. Biarlah aku terbenam dalam hingar bingarnya gemerlap dunia ini, asalkan aku dapat merasakan kasih sayangMU.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

RSS Catatan Dahlan Iskan

  • Piala Dunia untuk Celeng
    Kamis, 12 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Celeng membawa durian runtuh: untuk pemerintah Thailand. Sejak melakukan kudeta militer tiga tahun lalu baru sekali ini dapat pujian internasional. Berhasil menangani pemain bola remaja yang tergabung dalam klub Babi Hutan. Alias Celeng. Sudah tiga tahun tidak ada kebebasan pers di sana. Tidak ada kebebasan bicara. Tida […]
  • Tim Celeng Happy Ending
    Rabu, 11 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Mulai besok 12 remaja pegunungan pedalaman Thailand ini sudah tidak akan dipanggil Celeng 1, Celeng 2, Celeng 3 sampai Celeng 12 lagi. Para remaja itu memang tergabung dalam klub sepakbola di desa mereka. Nama klubnya: Wild Boars. Alias babi hutan. Alias celeng. ”Celeng 2 sudah keluar dari mulut … Baca lebih lanjut → […]
  • Tim yang Sama untuk Gua yang Sama
    Selasa, 10 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Kenapa nama empat remaja itu dirahasiakan? Yang berhasil diselamatkan tahap satu itu? Dari jebakan gua Tham Luang, di pedalaman Thailand itu? Tentu karena yang sembilan lagi masih belum berhasil dikeluarkan. Agar tidak banyak pertanyaan: mengapa, mengapa, mengapa… Lebih seribu wartawan juga tidak bisa dapat bocoran. Me […]
  • Drama Remaja Dalam Gua
    Senin, 09 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Ini seperti kisah-kisah petualangan remaja ala Enid Blyton. Sejumlah anak remaja masuk gua. Terjebak di dalamnya. Berhari-hari. Orang tua mereka cemas. Pahlawan tidak segera datang. Tapi ini sungguhan. 12 remaja beneran ini sudah dua minggu terjebak dalam gua beneran. Terperangkap. Minggu kemarin lebih 1.000 wartawan be […]
  • Trend Baru: Bayar Bagasi Apa Lagi
    Minggu, 8 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Pelopornya: bandara Hongkong. Korbannya: bukan Anda. Sementara ini yang jadi korban adalah perusahaan penerbangan. Entahlah kalau airlines akan meneruskan beban baru ini kepada penumpang. Kelak. Meneruskan atau tidak mestinya saya tidak perlu peduli. Manajemen bandara Hongkong bikin beban baru: untuk bagasi. Satu bagasi […]
  • Serba Ada di Samarinda
    Sabtu, 07 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Saya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura. Juga yang di Tiongkok. “Benarkah itu rumah sakit di Samarinda?,” ujar mereka. Keduanya pernah ke Samarinda. Hampir sepuluh tahun lalu. Saat Samarinda masih gelap: sering mati lampu. ”Kelihatannya lebih bagus dari kamar Anda di … Baca lebih […]
  • Perang Itu Dimulai Besok Pagi
    Jumat, 06 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Nanti malam. Ya. Nanti malam.Pukul 00.00. Perang itu harus dimulai. Sudah tidak ada lagi langkah mundur. Tidak sempat lagi negosiasi. Perang dagang Amerika-Tiongkok ini harus dimulai: Amerika mengenakan tarif masuk 25 persen. Untuk sejumlah barang Tiongkok yang diekspor ke sana. Terutama baja dan alumunium. Yang nilainy […]

RSS Catatan Pinggir

  • Origami
    Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah origami. Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan. Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, se […]
    anick
  • Batman
    Batman tak pernah satu. Maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak Batman Begins (2005) sampai dengan The Dark Knight Rises (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap film dalam trilogi Nolan sebenarnya tak menampilkan sosok yang sama, meskipun Christian Ba […]
    anick
  • Kakawin
    Pada suatu hari, di taman paviliun istana, Marmmawati, permaisuri, menemukan sebait puisi di kelopak sekuntum bunga pudak. Terpesona, ia pun menyalinnya. Lalu ia cepat-cepat kembali ke kamar. Gerimis turun. Dalam kesendiriannya, ia baca sajak itu dengan setengah berbisik. Dan kesalahpahaman pun terjadi. Baginda Jayawikrama mendengar suara bisik itu ketika ia […]
    anick
  • Teeuw (1921-2012)
    Pada umur 26, Andries Teeuw naik kapal pos, mengarungi laut, melintasi Terusan Suez, dan sampai di pelabuhan Sabang. Itu tahun 1947. Perjalanan yang tak menjanjikan ketenteraman. Hanya dua tahun sebelumnya Indonesia menyatakan diri merdeka. Belanda, yang merasa dibangkang, kemudian mengirim pasukan untuk menaklukkannya kembali. Tapi Teeuw, kelahiran Gorinche […]
    anick
The Big DayFebruari 9th, 2012
The big day is here.

RSS Fakta News

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: