adha panca wardanu

Beranda » Rekayasa Proses Produk Pertanian » POTENSI PENGEMBANGAN BIOENERGI DI KALIMANTAN BARAT

POTENSI PENGEMBANGAN BIOENERGI DI KALIMANTAN BARAT

Statistik Blog

  • 326,570 hits

Fan Page

Arsip

Go Green Indonesia

go green indonesia!

Berdasarkan hasil evaluasi potensi sumber daya lahan untuk beberapa komoditas penghasil bioenergi, terdapat 76.475.451 ha lahan yang sesuai untuk kelapa sawit, kelapa, tebu, jarak pagar, kapas, ubi kayu, dan sagu. Penyebaran lahan terluas terdapat di Papua, Sumatra dan Kalimantan (Las dan Mulyani 2006). Namun komoditas penghasil bioenergi tersebut merupakan sumber bahan pangan, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, tebu, sorgum, dan sagu, sehingga sulit untuk bersaing dengan kebutuhan konsumsi pangan.

Kalimantan barat memiliki sumberdaya alam yang cukup berlimpah dan potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku bioenergi. Selain tanaman kelapa dan kelapa sawit yang subur tumbuh di wilayah kalimantan barat yang dapat di jadikan sebagai bahan baku biofuel (biodiesel), salah satu tanaman yang juga memiliki potensi sebagai sumber bahan baku bioenergi adalah tanaman Nipah (Nypa fruticans) yang dapat dijadikan sebagai bioetanol.
Tanamana nipah (Nypa fruticans) selama ini tumbuh liar di sekitar hutan mangrove di pesisir pantai maupun sungai. Secara agronomis, tanaman Nipah tumbuh subur di hutan daerah pasang surut (hutan mangrove) dan daerah rawa-rawa atau muara-muara sungai yang berair payau. Di Indonesia luas daerah tanaman nipah adalah 10% dari luas daerah pasang surut sebesar 7 juta ha atau sekitar 700.000 ha. Penyebarannya meliputi wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya (Rachman, 1992).

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kelapa Nypa menghasilkan 5 sampai 7 kali lebih banyak energi dibandingkan dengan spesies lain. Hasil dari satu hektar kelapa sawit Nypa dengan bantuan dari teknologi yang canggih dapat berkisar 4.000-16.000 liter etanol per sadap musim. Selain itu, Nipah memiliki kandungan gula yang tinggi (nira) yang bila dikonversi menjadi menjadi etanol/ Butanol memungkinkan untuk menghasilkan sebanyak 6.480-15.600 liter/ hari/ ha. Nilai konversi itu lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman tebu yang menghasilkan 5.000 – 8.000 liter per hektar (per tahun) atau tanaman jagung yang hanya menghasilkan 2.000 liter (per tahun) per hektar. Namun hal yang terpenting, dalam pemanfaatan nipah sebagai bahan baku bioenergi yaitu tidak akan menimbulkan konflik kepentingan seperti tanaman pangan pada umumnya.

Saat ini keberadaan tanaman nipah yang vegetasinya cukup berlimpah di Kalimantan barat belum di manfaatkan sama sekali untuk memproduksi etanol. Padahal, tanaman ini amat sangat melipnah di Indonesia karena tanaman ini umumnya tumbuh di pantai dan negara kita adalah salah satu negara dengan garis pantai terluas di dunia. Sejauh ini, pemanfaatan nipah oleh masyarakat kalimantan barat khususnya pesisir pantai dan sungai terbatas pada daun dan tulang daun (lidi), daun nipah yang telah tua banyak dimanfaatkan secara tradisional untuk membuat atap rumah yang daya tahannya mencapai 3-5 tahun. Daun nipah yang masih muda mirip janur kelapa, dapat dianyam untuk membuat dinding rumah. Di Sumatra, pada masa silam daun nipah yang muda (dinamai pucuk) dijadikan daun rokok. Kalaupun ada yang memanfaatkannya untuk gula nipah hanya untuk konsumsi sendiri, sehingga pemanfaatannya belum maksimal. Jika potensi nipah dioptimalkan untuk menghasilkan bioetanol, maka akan berdampak luas pada kehidupan masyarakat dan ketersediaan energi di kalimantan barat.

PEMANFAATAN TANAMAN NIPAH SEBAGI BAHAN BAKU BIOETANOL
Nipah merupakan salah satu spesies utama penyusun hutan mangrove dengan komposisi sekitar 30 %. Saat ini, Luas hutan mangrove Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar dan merupakan mangrove terluas di dunia melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha). Bila asumsi 30 % hutan mangrove sebagai hutan nipah, maka diperkirakan terdapat sekitar 0,75 -1,35 juta hektar hutan nipah di Indonesia.

Nipah merupakan salah satu spesies utama penyusun hutan mangrove dengan komposisi sekitar 30 %. Nira yang terdapat dalam pelepah nipah berdasarkan penelitian mengandung kadar gula (sucrose) berkisar antara 15 – 17 %. Dengan kandungan itu, maka nira nipah berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri bioetanol. Rata-rata setiap pelepah nipah menghasilkan nira sebanyak 0,5 per hari dalam satu tahun, setiap malay pohon dapat disadap hingga 3 bulan, dengan demikian rata-rata produktivitas tiap malay nipah adalah sebesar = 0,5 L/hari x 90 hari = 45 L/th. Jika jumlah pohon nipah yang efektif adalah 3000 pohon per hektar dan semakin rapat maka pohon nipah tidak akan menghasilkan mayang. Dalam suatu lahan pun biasanya tidak 100% pohon nipah menghasilkan mayang, biasanya sekitar 40% saja, dengan demikian , nira yang dihasilkan = 40% x 3000 x 45 L = 54.000 L/ha/th. Jika nira tersebut dimanfaatkan untuk produktipitas bioetanol, maka kemungkinan kadar alkohol yang dihasilkan adalah 6 – 7%, dengan demikian = 54.000 x 7 persen x 100/95 = 3.978 L/ha/th. Luas hutan Nipah di Indonesia sekitar 0,75 – 1,35 juta, maka Indonesia berpotensi menghasilkan bioetanol dari tanaman nipah = 4000 L/ha x 0,75 juta ha = 3000 juta Liter = 3 juta kL.

Berdasarkan hasil penelitian, Nira Nipah mampu menghasilkan tujuh jenis biofuels ethanol yang menjadi bahan bakar nabati menggantikan bahan bakar fosil. Ketujuh jenis biofuels ethanol mangrove nipah tersebut diantaranya Bioethanol Nipah kadar 100 persen, Biokerosin nipah kadar 70 persen, Biopertamax nipah 95 persen Pertamax plus lima persen ethanol, Biopremium e20 nipah 80 persen bensin plus 20 persen ethanol, biopremium e85 nipah 25 persen bensin plus 85 persen ethanol, Biodiesel serta Gliserin Biodiesel Nipah plus CPO. Produk hasil olahan nipah tersebut diantaranya bioethanol kadar 100 persen dan bioethanol kadar rendah 70 persen sebagai biokerosin sebagai pengganti minyak tanah yang memiliki keunggulan api biru. Minyak ini lebih irit 1:6 cepat panas/masak, tidak meledak layak tabung elpiji. Bioethanol 100 persen di subtitusikan dengan bahan bakar fosil E 10 – 20 ke primium (bensin) menjadi Bio premium yang memiliki keunggulan bahan bakar berkadar oktan tinggi dan ramah lingkungan, serta produk jenis Bioethanol 100 persen yang di subtitusikan dengan bahan bakar pertamax E 5 menghasilkan produk biopertamax salah satu bahan bakar yg memiliki keunggulan bahan bakar berkadar oktan tinggi dan ramah lingkungan. Ada juga menghasilkan produk biodiesel yang berfungsi menggantikan solar.

Seiring dengan menipisnya cadangan energi BBM dan target diversifikasi 5 % pada tahun 2025, maka nipah dapat menjadi alternatif yang penting sebagai bahan baku pembuatan ethanol (bahan pencampur BBM). Berbeda dengan tanaman lain yang sama-sama menghasilkan nira atau pati, tanaman nipah ini jelas menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut karena pelepah bermayang atau manggar pohon nipah berada tak jauh dari permukaan tanah sehingga tidak perlu memanjat untuk memperoleh niranya seperti pada tanaman palma yang lain. Selain itu juga, pohon nipah umumnya tumbuh di daerah yang tidak produktif untuk budidaya lainnya dan tumbuh di daerah yang memudahkan pengangkutan lewat perairan serta pemanfaatan nipah sebagai bahan baku bioenergi yaitu tidak akan menimbulkan konflik kepentingan seperti tanaman pangan pada umumnya.

Pemanfaatan bietanol sebagai bahan bakar nabati menunjukan kecendrungan yang semakin meningkat. Permintaan etanol AS sendiri berdiri pada 22 miliar liter tahun lalu, dan bahwa biofuel diperkirakan akan memberikan 30% dari energi global pada tahun 2020. Amerika Serikat adalah produsen ethanol terbesar di dunia, dan Brasil adalah eksportir etanol terbesar di dunia. Pada tahun 2005 brasil telah memproduksi 16,6 miliar liter ethanol dan sekitar 80% nya (13,4 miliar liter ) digunakan sebagai bahan bakar (biofuel). Menurut Asosiasi Bahan Bakar Terbarukan, ada 106 pabrik ethanol sudah beroperasi di AS, dan 48 pabrik tambahan yang sedang dalam tahap pembangunan, serta tujuh pabrik yang mengalami perluasan. Dengan demikian prospek penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar masa depan kemungkinan akan terus meningkat seiring terjadinya peralihan penggunaan bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan. Ditambah dengan kelebihan dari bioetanol yang ramah lingkungan. Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar telah disetujui setiap produsen mobil utama di dunia dengan formulasi E – 10 Unleaded (10% ethanol/90% bensin tanpa timbal biasa). Selain itu, Penggunaan etanol-bensin dicampur membantu mengurangi tingkat ozon troposfer.

Pengembangan bioetanol dari nipah sudah saatnya untuk dipertimbangkan sebagai sumber energi alternatif masa depan. Namun sayang penelitian mengenai bioetanol nipah di Indonesia masih sangat sedikit, kalah dibandingkan negara Malaysia. Di Malaysia, pemanfaatan nira nipah sudah sangat gencar dilakukan. Bahkan mereka menobatkan diri sebagai negara pertama di dunia yang memproduksi bietanol dari nipah secara komersial dan dalam waktu dekat akan segera mematenkan alur produksi bioetanol dari nipah. Indonesia seharusnya bisa lebih maju dalam pengembangan bioenergi mengingat begitu banyaknya potensi sumberdaya alam yang dimiliki dan tersebar di seluruh kepulauan indonesia salah satunya Kalimantan barat.

Di Kalimantan barat hampir setiap pinggir sungai diwilayah pesisir ditumbuhi pohon Nipah yang sangat subur dan rapat sehingga sulit untuk ditembus. Vegetasi tumbuhan tersebut hanya hidup dan berkembang di daerah air payau atau lebih dikenal dengan mangrove. Hutan Nipah yang tersebar hampir sepanjang pantai Kalimantan Barat tentunya menjadi potensi yang cukup besar bagi penyediaan bahan bakar nabati maupun penyerapan tenaga kerja setempat.

Biofuel ethanol berbasis kearifan ekosistem jutaan hektare hutan mangrove nipah di pesisir-pantai diharap memberikan kontribusi nyata, karena memiliki nilai lebih dibandingkan komoditi tanaman energi lain. Eksploitasi sumberdaya yang ada untuk produksi etanol secara berkelanjutan dapat menjadi strategi yang bagus untuk memberikan penghasilan tambahan untuk komunitas mangrove, yang sering hidup dalam kemiskinan.
.


6 Komentar

  1. Zamzuri Omar mengatakan:

    Producing Nypa sap to ethanol or nypa by products is solely intellectual property gazette to Pioneer Bio Industries Corporation (PBIC) as we search in World Intellectual Property Organization(WIPO). Anyone who interested to do business should contact PBIC to get proper position. Truly it is good business. To know about the company you can search at http://www.mypbic.org.

    Suka

  2. zam omar mengatakan:

    Producing Nypa sap to ethanol or nypa by products is solely intellectual property gazette to Pioneer Bio Industries Corporation (PBIC) as we search in World Intellectual Property Organization(WIPO). Anyone who interested to do business should contact PBIC to get proper position. Truly it is good business. To know about the company you can search at http://www.mypbic.org.

    Suka

  3. sultoni rohman mengatakan:

    Artikel bagus mas,, ƾаƔα produsen etanol skala mikro Ɣªήğ suda kolaps😉 setelah riset sana sini, alhamdulilah peluang etanol masih åϑª,terutama ϑi daerah terpencil.. Ɣªήğ jadi pertanyaan apakan sadap nira mudah dicari sdm-nya?? Karna skarang penyadap dira (lontar,aren, kelapa) susah dicarinya, n mahal ongkosnya disebabkan resikonya.. Kalo bisa ditemukan metode sadap nipah Ɣªήğ murah, tentunya permasalahan harga etanol bisa teratasi.. Selain itu Ɣªήğ paling penting dukungan modal utk modif mesin kendaraan supaya bisa minum etanol😉

    Suka

  4. Okampung mengatakan:

    inspiring…harus berani memulai…meski sendiri dulu…toh nanti ada yg ikut mengamini…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Catatan Dahlan Iskan

  • Setelah Istri Membawa Rezeki Scaffolding
    Senin, 27 Juni 2016 Hilangkan kebencian! Kata Mohed. Sekian puluh tahun kemudian, Mohed, yang waktu kecil dididik dengan penuh kebencian, memiliki lebih dari seratus perusahaan. Di seratus negara. Menarik: dia orang Syria. Suku Badui. Yang dulu hidup berpindah-pindah di padang pasir. Kini Mohed tinggal di Prancis Selatan. ”Itulah kunci sukses saya,” ujar Moh […]
  • Pengakuan dari Tangis dalam Pelukan
    Senin, 20 Jun 2016 Awalnya Donald Trump seperti mendapat senjata baru: seorang beragama Islam menembaki orang Amerika di sebuah nite club bernama Pulse di Orlando. Penembakan di Minggu dini hari itu membuat 49 orang tewas. Sangat mengejutkan sekaligus wow: terbesar dalam sejarah Amerika untuk sebuah penembakan yang dilakukan satu orang. Hanya dalam hitungan […]
  • Di Saat Ali Meninggal, Komedi Tidak Mati
    Senin, 13 Juni 2016 Muhammad Ali sudah pergi. Tapi, dia tidak pernah meninggal. Itulah kata penutup yang manis dari sambutan seorang komedian terkemuka Amerika Billy Crystal. Dia bukan hanya pemegang 33 award di bidang komedi, tapi juga dianggap adik sendiri oleh almarhum Ali. Jutaan orang menyaksikan secara live siaran tv acara besar di gedung basket … Baca […]
  • Tahun Lalu Berkunjung, Sekarang Melayat
    Minggu, 12 Juni 2016 Untuk menghadiri pemakaman jenazah Muhammad Ali di Louisville, kota terbesar di Negara Bagian Kentucky, saya harus mengendarai mobil ke arah timur selama 2,5 jam dari tempat tinggal sementara saya di kota kecil Evansville. Saya berangkat pukul 08.30 karena salat jenazah dilaksanakan pukul 12.00 tepat. Perjalanan lancar karena selama 2,5 […]
  • Humor Tinggi dan Marahnya Seorang Presiden Santun
    Senin, 6 Jun 2016 Presiden Obama kembali jadi pelawak. Di depan forum tahunan wartawan Washington bulan lalu, gelak tawa tidak habis-habisnya. Seperti setahun sebelumnya: setengah jam pidato tepuk tangannya lebih dari 70 kali. Salah satu sasaran humornya tentu para calon presiden. Setelah lama ngelawak dan ngerjain dua capres dari partainya sendiri, Bernie S […]
  • Kembali ke Kesukuan dengan Alat Keglobalan
    Senin, 30 Mei 2016 Kini ada banjir yang tidak mengenal musim: banjir informasi. Ada semangat yang terus kian tinggi: semangat membuat grup di media sosial. Itulah gejala baru pada zaman media elektronik sekarang ini. Ada baiknya, ada bahayanya. Dan yang pasti banyak repotnya. Dan sering low batt-nya. Hampir tiap minggu saya di-invite. Untuk dimasukkan satu … […]
  • Alat Vital Baru dengan Harga Bermiliar
    Senin, 23 Mei 2016 Sukses ini begitu penting di Amerika. Sukses uji coba transplan penis. Jadi salah satu berita terpenting. Sebab, begitu banyak tentara yang rusak kemaluannya di medan perang. Utamanya di Afghanistan, Iraq, dan sekitarnya. Mereka adalah orang-orang perkasa. Masih muda. Belia. Banyak yang baru 20 tahun. Kuat-kuatnya. Meski tidak mati, tanpa […]

RSS Catatan Pinggir

  • Origami
    Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah origami. Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan. Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, se […]
    anick
  • Batman
    Batman tak pernah satu. Maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak Batman Begins (2005) sampai dengan The Dark Knight Rises (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap film dalam trilogi Nolan sebenarnya tak menampilkan sosok yang sama, meskipun Christian Ba […]
    anick
  • Kakawin
    Pada suatu hari, di taman paviliun istana, Marmmawati, permaisuri, menemukan sebait puisi di kelopak sekuntum bunga pudak. Terpesona, ia pun menyalinnya. Lalu ia cepat-cepat kembali ke kamar. Gerimis turun. Dalam kesendiriannya, ia baca sajak itu dengan setengah berbisik. Dan kesalahpahaman pun terjadi. Baginda Jayawikrama mendengar suara bisik itu ketika ia […]
    anick
  • Teeuw (1921-2012)
    Pada umur 26, Andries Teeuw naik kapal pos, mengarungi laut, melintasi Terusan Suez, dan sampai di pelabuhan Sabang. Itu tahun 1947. Perjalanan yang tak menjanjikan ketenteraman. Hanya dua tahun sebelumnya Indonesia menyatakan diri merdeka. Belanda, yang merasa dibangkang, kemudian mengirim pasukan untuk menaklukkannya kembali. Tapi Teeuw, kelahiran Gorinche […]
    anick
The Big DayFebruari 9th, 2012
The big day is here.

RSS Fakta News

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: