adha panca wardanu

Beranda » Lingkungan dan Ekologi Industri » PENERAPAN ZERO EMISSIONS PADA INDUSTRI KELAPA SAWIT

PENERAPAN ZERO EMISSIONS PADA INDUSTRI KELAPA SAWIT

Statistik Blog

  • 467,339 hits

Arsip

Go Green Indonesia

go green indonesia!
Iklan

Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Hasil analisis yang dilakukan FAO (2001), Mielke (2001), dan Susila (2002) menunjukkan peluang peningkatan konsumsi CPO masih terbuka.
Dalam melihat peluang pasar CPO Indonesia, maka terlebih dahulu perlu diestimasi peluang pasar (peningkatan konsumsi) di pasar dunia. Berdasarkan hasil estimasi sebelumnya, tingkat konsumsi sampai dengan tahun 2025 diperkirakan akan berkisar antara 41.45 – 44.45 juta ton. Dengan peluang pasar yang cukup terbuka baik dari sisi ekspor ataupun konsumsi dunia secara keseluruhan, negara produsen CPO akan berusaha memanfaatkan peluang pasar tersebut. Malaysia sebagai produsen utama diperkirakan akan memanfaatkna peluang tersebut dengan peningkatan produksi dengan laju 2.8%-1.5% per tahun. Indonesia diperkirakan masih akan mempunyai peluang untuk memanfaatkan peluang tersebut dengan peningkatan produksi dengan laju antara 3.0%-7.6% per tahun (Susila, 2002).
Peningkatan konsumsi CPO yang cukup besar ini menunujukan bahwa penerimaan masyarakat dunia terhadap minyak sawit semakin meningkat sejalan dengan ditemukannya berbagai keunggulan nutrisi minyak sawit dan keramahan produk minyak kelapa sawit terhadap lingkungan. Beberapa studi bahkan membuktikan bahwa konsumsi minyak sawit dapat menurunkan total kolesterol dan LDL kolesterol, serta meningkatkan HDL kolesterol baik dalam darah (Sundram, 1997). Sejalan dengan semakin banyaknya penelitia-penelitian mengenai keunggulan minyak kelapa, maka industri-industri kelapa sawit pun semakin berkembang pesat.
Perkembangan industri kelapa sawit pesat di Indonesia bukan serta merta langsung dapat diterima oleh masyarakat di wilayah pengembangan perkebunan kelapa sawit, tetapi malah banyak menimbulkan konflik di kalangan masyarakat berkaitan isu kerusakan lingkungan maupun aspek social-budaya. Mulai dari pencemaran limbah yang diakibatkan oleh pabrik pengolahan kelapa sawit, hilangnya ekosistem akibat penanaman kelapa sawit yang monokultur, persengetaan tanah adat dan lain sebagainya. Masalah-maslah yang timbul mungkin dapat diminimalkan apabila dalam pembangunan kawasan industri kelapa sawit tersebut menerapakan suatu konsep pembangunan industri yang berkelanjutan.
Pembangunan industri yang berkelanjutan tidak lain adalah bagaimana menyelenggarakan pembangunan industri kelapa sawit yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang. Konsep pembangunan industri yang berkelanjutan pada dasarnya adalah merubah pola pikir para pengusaha, pemerintah dan masyarakat yang mengusahakan industri dari pola pikir egosnetris yang hanya berorientasi pada keuntungan sendiri saja menjadi pola pikir yang lingkungan sentris yang bukan hanya memikirkan keuntungan tetapi juga memikirkan bagaimana mengolah lingkungan agar tetap baik. Kebutuhan pengendalian lingkungan mutlak diperlukan dalam pengembangan suatu industri jadi tidak semata mementingkan keuntungan ekonomis saja, untuk itu diperlukan adanya partisipasi masyarakat dalam memamanfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia yang saling menguntungkan (Sri Kumalangingsih, 2009).
Ada dua gagasan penting dalam konsep pembangunan yang berkelanjutan yaitu gagagasan “kebutuhan” yaitu kebutuhan esesnsial yang memberlanjutkan kehidupan manusia da ngagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan hari depan. Dari dua gagasan tersebut maka setidaknya dalam mengusahakan suatu industri kelapa sawit yang berkelanjutan maka harus mengacu pada pemerataan dan keadilan sosial, menghargai keanekaragaman (diversity), pendekatan integrative dan meminta perspektif jangka panjang (Surna T. Djajadiningrat dan Melia Famiola, 2004).
Seringnya benturan (ketidakserasian) antara dunia bisnis dengan alam, antara ekonomi dan ekologi, terutama karena adanya kenyataan bahwa alam adalah suatu siklus, sedangkan sistem industri adalah linear; memanfaatkan energi dan sumber daya alam mentransportasikanya menjadi produk ditambah limbah, membuang limbahnya dan akhirnya membuang produknya setelah dimanfaatkan. Pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan membutuhkan suatu siklus, meniru ekosistem. Untuk mencapai pola siklus, dibutuhkan rancangan ulang yang mendasar dari bisnis dan ekonomi, pola linear perlu diubah menjadi pola siklus (Surna T. Djajadiningrat dan Melia Famiola, 2004).
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk menjadikan pola siklus pada industri kelapa adalah konsep zero emissions. Konsep Zero Emissions dapat diterapkan pada Industri Kelapa sawit, karena konsep ini mempunyai falsafah dasar yang menyatakan bahwa proses industri seharusnya tidak menghasilkan limbah dalam bentuk apapun karena limbah tersebut merupakan bahan baku bagi industri lain. Zero Emissions menggambar kan perubahan konsep industri dari model linier dimana limbah dipandang sebagai norma, system terintegrasi yang memandang kepada nilai gunanya.
Dari sudut pandang lingkungan, konsep eliminasi limbah Zero Emissions merupakan solusi akhir dari permasalahan pencemaran yang mengancam ekosistem baik dalam skala lokal maupun dalam skala global. Selain itu, penggunaan maksimal bahan mentah yang dipakai dan sumber-sumber yang terbaharui (renewable) menghasilkan keberlanjutan (sustainable) penggunaan sumber daya alam dan penghematan (efisiensi) terutama bagi limbah yang masih mempunyai nilai ekonomi.
Aplikasi Zero Emissions pada Industri Kelapa Sawit berarti meningkatkan daya saing dan efisiensi karena semua sumber daya digunakan secara maksimal yaitu memproduksi lebih banyak dengan dengan bahan baku yang lebih sedikit, oleh sebab itu Zero Emissions dapat dipandang sebagai suatu standar efisiensi. Kegiatan kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit merupakan kegiatan yang sangat memungkinkan penerapan konsep Zero Emissions, dimana hampir semua limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali mulai dari pelepah sampai limbah cair.
Penggunaan bahan baku secara maksimal berarti penciptaan industri baru dan lapangan kerja sejalan dengan meningkatnya produktivitas, dan mendukung usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengurangi kemampuan produksi sumber daya alam bagi generasi dimasa depan. Secara garis besar, penerapan konsep Zero Emissions ini akan menyebabkan perubahan pola industri alisasi menjadi:
1. Lebih peduli lingkungan (eko product): Dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku dan memaksimalkan nilai gunanya, secara otomatis, emisi gas, limbah padat dan cair ke lingkungan akan berkurang.
2. Terciptanya lapangan kerja baru: Melalui proses siklus, limbah suatu proses menjadi input bagi proses lainnya dan seterusnya. Sehingga akan terjadi ekspansi dan diversifikasi industri, dimana dampaknya adalah munculnya kebutuhan tenaga dan terciptanya lapangan kerja baru.
Keuntungan perusahaan meningkat; Pergeseran paradigma dari shareholders menjadi stake-holders mengakibatkan suatu produk akan dikonsumsi jika memenuhi norma yang dipakai oleh konsumen.
Penerapan konsep Zero Emissions adalah salah satu solusi untuk membangun industri kelapa sawit yang berkelanjutan untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.

Iklan

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

RSS Catatan Dahlan Iskan

  • Piala Dunia untuk Celeng
    Kamis, 12 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Celeng membawa durian runtuh: untuk pemerintah Thailand. Sejak melakukan kudeta militer tiga tahun lalu baru sekali ini dapat pujian internasional. Berhasil menangani pemain bola remaja yang tergabung dalam klub Babi Hutan. Alias Celeng. Sudah tiga tahun tidak ada kebebasan pers di sana. Tidak ada kebebasan bicara. Tida […]
  • Tim Celeng Happy Ending
    Rabu, 11 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Mulai besok 12 remaja pegunungan pedalaman Thailand ini sudah tidak akan dipanggil Celeng 1, Celeng 2, Celeng 3 sampai Celeng 12 lagi. Para remaja itu memang tergabung dalam klub sepakbola di desa mereka. Nama klubnya: Wild Boars. Alias babi hutan. Alias celeng. ”Celeng 2 sudah keluar dari mulut … Baca lebih lanjut → […]
  • Tim yang Sama untuk Gua yang Sama
    Selasa, 10 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Kenapa nama empat remaja itu dirahasiakan? Yang berhasil diselamatkan tahap satu itu? Dari jebakan gua Tham Luang, di pedalaman Thailand itu? Tentu karena yang sembilan lagi masih belum berhasil dikeluarkan. Agar tidak banyak pertanyaan: mengapa, mengapa, mengapa… Lebih seribu wartawan juga tidak bisa dapat bocoran. Me […]
  • Drama Remaja Dalam Gua
    Senin, 09 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Ini seperti kisah-kisah petualangan remaja ala Enid Blyton. Sejumlah anak remaja masuk gua. Terjebak di dalamnya. Berhari-hari. Orang tua mereka cemas. Pahlawan tidak segera datang. Tapi ini sungguhan. 12 remaja beneran ini sudah dua minggu terjebak dalam gua beneran. Terperangkap. Minggu kemarin lebih 1.000 wartawan be […]
  • Trend Baru: Bayar Bagasi Apa Lagi
    Minggu, 8 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Pelopornya: bandara Hongkong. Korbannya: bukan Anda. Sementara ini yang jadi korban adalah perusahaan penerbangan. Entahlah kalau airlines akan meneruskan beban baru ini kepada penumpang. Kelak. Meneruskan atau tidak mestinya saya tidak perlu peduli. Manajemen bandara Hongkong bikin beban baru: untuk bagasi. Satu bagasi […]
  • Serba Ada di Samarinda
    Sabtu, 07 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Saya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura. Juga yang di Tiongkok. “Benarkah itu rumah sakit di Samarinda?,” ujar mereka. Keduanya pernah ke Samarinda. Hampir sepuluh tahun lalu. Saat Samarinda masih gelap: sering mati lampu. ”Kelihatannya lebih bagus dari kamar Anda di … Baca lebih […]
  • Perang Itu Dimulai Besok Pagi
    Jumat, 06 Juli 2018 Oleh: Dahlan Iskan Nanti malam. Ya. Nanti malam.Pukul 00.00. Perang itu harus dimulai. Sudah tidak ada lagi langkah mundur. Tidak sempat lagi negosiasi. Perang dagang Amerika-Tiongkok ini harus dimulai: Amerika mengenakan tarif masuk 25 persen. Untuk sejumlah barang Tiongkok yang diekspor ke sana. Terutama baja dan alumunium. Yang nilainy […]

RSS Catatan Pinggir

  • Origami
    Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah origami. Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan. Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, se […]
    anick
  • Batman
    Batman tak pernah satu. Maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak Batman Begins (2005) sampai dengan The Dark Knight Rises (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap film dalam trilogi Nolan sebenarnya tak menampilkan sosok yang sama, meskipun Christian Ba […]
    anick
  • Kakawin
    Pada suatu hari, di taman paviliun istana, Marmmawati, permaisuri, menemukan sebait puisi di kelopak sekuntum bunga pudak. Terpesona, ia pun menyalinnya. Lalu ia cepat-cepat kembali ke kamar. Gerimis turun. Dalam kesendiriannya, ia baca sajak itu dengan setengah berbisik. Dan kesalahpahaman pun terjadi. Baginda Jayawikrama mendengar suara bisik itu ketika ia […]
    anick
  • Teeuw (1921-2012)
    Pada umur 26, Andries Teeuw naik kapal pos, mengarungi laut, melintasi Terusan Suez, dan sampai di pelabuhan Sabang. Itu tahun 1947. Perjalanan yang tak menjanjikan ketenteraman. Hanya dua tahun sebelumnya Indonesia menyatakan diri merdeka. Belanda, yang merasa dibangkang, kemudian mengirim pasukan untuk menaklukkannya kembali. Tapi Teeuw, kelahiran Gorinche […]
    anick
The Big DayFebruari 9th, 2012
The big day is here.

RSS Fakta News

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: