Setiap manusia pasti memiliki sesuatu yang unik didalam dirinya, terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Satu hal yang membuat manusia lebih baik dari mahluk lain yang ada di bumi ini adalah “Akal”. Akal di anugrahkan sang pencipta agar manusia dapat berpikir dan tahu membedakan yang benar dan yang salah. Ibarat sebuah komputer akal adalah procesornya, sehebat apapun prosesornya namun apabila yang menggunakanya (User) tidak mengerti mengoperasikan dan menjalankan program-program yang ada didalamnya maka tidak akan ada gunanya. Begitu juga dengan akal, apabila kita dapat menggunakannya dengan baik maka akan menjadi kesia-siaan.
Agar dapat mengoptimalkan akal kita, setidaknya kita harus banyak menginput data dalam otak kita agar dapat digunakan akal sebagai referensi untuk berpikir dan menganalisa dan menyimpulkannya. Input yang dimaksud adalah ilmu dan pengetahuan, semakin banyak ilmu dan pengetahuan yang kita miliki maka semakin baik kita dalam menyimpulkan sesuatu hal. Sebaliknya apabila masukan maupun input yang masuk ke dalam otak kita maka akal yang kita miliki akan tumpul. Sebab itu dalam islam menuntut ilmu adalah penting.
Dengan akal kita dapat berpikir, menganalisa, menimbang dan menyimpulkan dan pada akhirnya berbuah pada sebuah persepsi yang kita yakini kebenarannya. Persepsi kita terhadap sesuatu sangat mempengaruhi tingkah laku kita dalam bertindak dan melakukan sesuatu. Persepsi yang salah terhadap sesuatu akan membuat kita salah dalam bertindak. Itulah sebabnya mengapa manusia memiliki perilaku yang berbeda-beda, itu tak lain karena setiap manusia memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu. Perbedaan itu juga dikarenakan input atau masukan yang berbeda-beda dan berlainan jumlahnya.
Dibawah ini ada sebuah kutipan dari email yang saya terima dari seorang teman yang bagi saya cukup menarik dan bagus untuk dapat dipahami.
ADA tiga orang yang ingin membeli sepuluh buah jeruk manis di sebuah pasar swalayan untuk dibawa pulang ke rumahnya.
Orang pertama, mencoba sebuah jeruk untuk memastikan rasanya manis, lalu jeruk kedua hingga kesepuluh. Dia meninggalkan toko itu dengan membawa plastik berisikan kulit sepuluh buah jeruk.
Orang kedua, hanya mencicipi sebuah jeruk, lalu memasukkan sembilan sisanya ke dalam plastik sesudah membayarkan harganya lalu meninggalkan toko itu.
Orang ketiga, sebelum membeli jeruk, ia buka laptop lalu mencari data dan informasi tentang jeruk di mesin pencari goegle atau masuk ke perpustakaan dan melakukan serangkaian aksi intelektual terhadap jeruk tersebut secara universal, mulai dari meneliti merek, cara penanaman, komposisi kandungannya dan nama negara pengekspornya. Ia memastikan sepuluh jeruk yang telah dikenalnya itu sebagai manis tanpa mencicipinya satu buah pun. Ia meninggalkan toko itu sambil menjinjing plastik berisikan sepuluh buah jeruk.
Tiga Tipe Manusia
Ada tiga tipe manusia yang menggunakan tiga cara membentuk sebuah keyakinan, termasuk keyakinan agamanya.
Orang pertama, karena setiap tema harus diyakini berdasarkan penelitian, ia mulai mengkaji satu tema lalu tema kedua dan begitulah seterusnya. Dibenaknya berpindah dari sebuah tema minor ke tema minor lainnya sebelum menghimpunnya dalam sebuah keyakinan yang kompleks. Ia menggunakan induksi, yaitu aksi intelektual dari tema partikular lalu berhenti di tema universal sebagai kesimpulan aksiomatis.
Orang kedua menularkan hukum sebuah objek partikular yang telah dikajinya atas objek partikular lainnya yang tidak dikajinya, lalu memastikan semua partikular yang sama dalam himpunan keyakinan universal sebagai kesimpulan. Metode yang digunakannya adalah kombinasi analogi dan induksi yang terbatas.
Orang ketiga hanya mengkaji tema universal yang merupakan muara tema-tema partikular lainnya. Ia hanya memeras otak untuk memahami tema mayor, yang meliputi minor-minor. Selanjutnya ia hanya menerima dan mengamalkan tema-tema minor yang merupakan konsekuensinya. Sebagai contoh, ia melakukan shalat, yang merupakan tema minor, sebagai konsekuensi keyakinan mayornya, yaitu Islam, tanpa merasa perlu tahu tentang dalil-detailnya. Selanjutnya ia menjalankan aktivitasnya.
Ketiga cara tersebut diatas dibahas dalam sebuah bidang ilmu bernama epistemologi, yaitu ilmu tentang sumber dan anatomi pengetahuan.
Bisa dipastikan bahwa orang pertama tidak akan pernah berhenti mencari, membahas dan berdiskusi, bahkan mungkin tidak sempat melaksanakan keyakinannya, karena ia akan sibuk menjelajahi etalase tema-tema partikular yang masih mengganjal atau yang belum diproses oleh otaknya atau belum diyakininya. Ia adalah petualang wacana, tanpa mencapai sebuah kesimpulan universal yang bisa dijadikan sebagai pandangan dunia dan jalan hidupnya.
Sedangkan orang kedua hanya mengandalkan kemungkinan universal berdasarkan pengetahuan yang bersifat partikular, dengan tetap membuka ruang kecil bagi opsi dan kemungkinan lain yang bisa jadi menafikan kesimpulan universalnya. Ia senanatiasa diliputi oleh kecurigaan dan waw-was akan kesalahan yang mungkin akan muncul, karena belum diyakininya secara komprehensif. Ia tidak akan pernah memiliki keterikatan relijius. Ia bahkan akan selalu gamang dan tidak commited. Sisi positifnya, ia biasanya bersikap pluralis, toleran dan anti fanatisme.
Adapun orang ketiga tidak akan sibuk lagi dengan mempelajari dan mengkaji tema-tema partikular yang dianggapnya sebagai bagian dari tema universal yang telah diyakininya. Ia, misalnya, tidak akan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mencari tahu dalil tentang detail-detail shalat, karena sudah memastikan sumber hukum yang diandalkannnya untuk dijadikan sebagai panutan dan rujukan.
Orang yang menggunakan cara ketiga (deduksi) tidak merasa perlu mengetahui dalil dan alasan serta detail hukum tema-tema yang bersifat partikular sebelum melaksanakannya. Ia laksana orang yang telah memeras otak untuk mencari kriteria ‘atasan’. Setelah menemukan dan meyakini seseorang sebagai atasannya dan dirinya sebagai bawahannya, ia tidak lagi memerlukan dalil untuk melaksanakan setiap perintah atasannya itu, karena perintah itu bersifat partikular, dan hanyalah konskuensi logis dari keyakinan universalnya akan status orang itu sebagai atasan. Kalau bawahan menanyakan alasan rasional dan tujuan perintah atasannya, sangat mungkin besok ia sudah kehilangan posisi sebagai ‘bawahan’ alias diPHK karena desersi atau ‘mogok taat’.
Manakah cara yang perlu diutamakan dan dipilih? Cara pertama bisa dipastikan sulit bahkan mustahil dicapai, kecuali bila dibatasi area objeknya. Tidaklah mungkin menetapkan hukum ‘air memuai bila suhunya mencapai 0 derajat celicius’ dengan mencoba semua fenomena air tanpa kecuali.
Cara kedua hanya efektif bila objek yang dikaji bersifat material. Ilmu-ilmu alam, seperti fisika, kimia dan biologi, berpijak di atas induksi yang terbatas ini. Namun, agama dan sebagian ilmu rasional, seperti matematika, filsafat dan teologi, tidak bisa didekati dengan metode induksi, karena ia tidak bisa dihasilkan dari survei, investigasi dan penelitian empiris.
Dengan demikian, jelaslah agama dan keyakinan transenden cukup diyakini secara universal, sedangkan tema-tema di dalamnya, tidak perlu dipelajari secara argumentatif, kecuali bagi orang-orang tertentu yang punya cukup waktu dan bertugas untuk memberikan penjelasan-penjelas an tentang agama.
Kita tidak perlu mencoba setiap jeruk untuk mengetahui rasa dan kualitasnya. Kita juga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mempelajari semua tema agama, mempelajari kitab-kitab kuning dan menjadi ‘ustadz’ hanya karena ingin menjadi orang saleh dan taat beragama. Yang perlu dilakukan adalah mencari kriteria umum yang rasional, agar bisa mengerjakan yang lain dan pulang dengan membawa plastik berisikan jeruk, bukan kulit jeruk.
Yang menggelikan, di tengah masyarakat beragama, ada sekelompok orang yang memastikan jeruknya sebagai ‘yang paling manis’ meski tidak menggunakan salah satu dari tiga metode tersebut di atas sambil mencemooh, membatilkan, dan tentu saja, menyesatkan dan mengkafirkan pemakan jeruk lain. (Syaikh Muhsin Labib)
Komentar Terakhir