Arsip

Archive for the ‘Abstrak Jurnal’ Category

Penerapan Cleaner Production pada Industri Tapioka untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Oleh : Sri suhartini, S.TP. M.Env.Mngt
Abstrak

Provinsi jawa timur tercatat sebagai daerah penghasil ubi kayu (singkong) tertinggi dibandingkan dengan beberapa daerah lainnya di indonesia. Jumlah produksi tahunan ubi kayu sebagai bahan bakunya, salah satunya adalah industri tapioka. Sebagian besar industri tapioka di indonesia merupakan usaha skala kecil (>75%), dan sisanya merupakan usaha skala menengah dan besar. Industri tersebut memiliki peran yang sangat signifikan terhadap lingkungan seperti pencemaran air, tanah dan udara, pengeksploitasian sumber daya alam, dan sebagainya,. Padahal, kunci kesuksesan suatu industri juga dapat dinilai dari kemampuannya untuk mengadopsi teknologi yang ramah lingkungan sehingga dapat menunjang kelangsungan proses produksinya. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah cleaner production (CP). Cleaner Production didefinisikan sebagai metode yang efektif untuk kepentingan lingkungan dan ekonomi. Oleh karena itu, penerapan CP menjadi sangat penting karena dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi dan mengurangi biaya produksi sehingga industri ini dapat terus memainkan perannya sebagai salah satu industri yang mendukung ketahanan pangan di indonesia.

Limbah Sawit : Provitamin A Potensial

Adhitiyawarman1 dan Leenawaty Limantara2
1Program Pascasarjana Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
2Ma Chung Research Center, Universitas Ma Chung, Malang 65151

Abstrak

Salah satu masalah gizi utamayang diderita anak balita adalah kekurangan vitamin A. Data menyebutkan, separuh balita di indonesia terancam kekurangan vitamin A. Untuk penangulangannya, dua kali setahun kepada anak balita diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi. Pada awal penerapan program, kapsul disuplai dari UNICEF, namun sejak 1997 bantuan dihentikan. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan vitamin A, dirasa perlu dilakukan upaya diversivikasi produk lokal yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan ini.
Indonesia memiliki berbagai kekayaan alam yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi makanan fungsional, salah satunya adalah kelapa sawit. Selain kandungan minyak yang tinggi, kelapa sawit juga mengandung mikro nutrient penting yaitu karotenoid merupakan prekursor vitamin A (Provitamin A). Dari 10 macam (satu diantara dua vitamin A alami) provitamin A, Beta karoten merupakan provitamin A yang paling potensial, dimana beta karoten setara dengan 2 vitamin A. Provitamin A ini memiliki keunggulan , dimana tubuh akan mengkonversi beta karoten menjadi vitamin A dalam jumlah secukupnya saja, dan selbihnya akan tetap tersimpan sebagai beta karoten. Sifat inilah yang yang menyebabkan beta karoten berperan sebagai sumber vitamin A yang aman, tidak seperti suplemen vitamin A yang bisa menyebabkan keracunan, jika diberikan secara berlebihan. Data menunjukan bahwa limbah kelapa sawit memiliki kandungan Beta karoten yang tinggi dan berpotensi untuk dijadikan sumber provitamin A.

Potensi pemanfaatan Limbah janjang Kosong Kelapa Sawit sebagai karotenoid

Reni Subawati Kusumaningtyas
Program Pascasarjana magister biologi, Universitas Kristen satya wacana

Abstrak

Janjang kosong kelapa sawit (JK) merupakan salah satu limbha padat utama yang dihasilkan pabrik pengolahan kelapa sawit dalam jumlah sangat besar. Selama ini, pemanfaatannya masih sangat terabtas, misalnya sebagai mulsa penutup tanah di area kebun kelapa sawit atau dikomposkan dan dipergunakan sebagai pupuk organik . pemanfaatan JK sebagai sumber karotenoid diharapkan dapat meningktakan nilai ekonomisnya dan dapat dinilai sebagai suatu inovasi yang bermanfaat bagi dunia industri makanan. Hasil penelitian menunjukan JK yang mengalami 1 kali sterilisasi rata-rata mengandung karotenoid total sebesar 37,8 ppm, sedangkan JJK yang mengalami 2 kali sterilisasi kandungannya rat-rat sebesar 25,9 ppm. Komposisi karotenoid di dalam JJK didominasi oleh alpha-karoten (12,9 ppm), Beta-Karoten (6,4 ppm), lutein (4,1 ppm), dan zeakaroten (3,9 ppm), sedangkan karotenoid lainya sebesar 5,2 ppm. Senyawa beta-karoten bersifat lebih stabil daripada senyawa karotenoid lainnya sebesar 5,2 ppm. Senyawa Beta-karoten bersifat lebih stabil dari pada senyawa karotenoid lainya. Pada proses sterilisasi JJK penurunan beta karoten hanya sebesar 3% sedangkan alpha karoten 29%, lutein 20%, zeakaroten 35 %.

OPTIMASI PROSES MIKROFILTRASI PADA PEMBUATAN REFINED CARRAGEENAN

Uju Sadli
Staf Departemen Teknologi Hasil Perairan, FPIK-IPB

Karaginan merupakan hasil olahan dari rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis dan permintaan yang tinggi. Selama ini proses pemurnian ekstrak rumput laut untuk menghasilkan karaginan refined berkualitas tinggi dilakukan dengan menggunakan alkohol, namun metode ini memerlukan jumlah biaya produksi tinggi. Salah satu metode pemurnian secara fisik adalah teknologi membran. Teknologi ini memanfaatkan prinsip penyaringan dengan menggunakan tekanan sebagai driving force. Selain itu kinerja proses membran juga ditentukan oleh laju alir umpan. Penelitian ini bertujuan menentukan tekanan transmembran dan laju alir umpan yang optimum terhadap kinerja membran mikrofiltrasi (fluks dan rejeksi) dalam proses pemurnian dan pengkonsentrasian karaginan. Pada proses pemurnian larutan karaginan dengan membran mikrofilrtasi 0,1 mikron, fluks meningkat sebesar 8,05 l m2 jam-1 untuk setiap kenaikan tekanan transmembran 1 kPa, sedangkan laju alir umpan pada kondisi ini tidak berpengaruh signifikan dalam meningkatkan fluks. Tekanan transmembran mencapai maksimum pada 128 kPa dan laju alir 3,47 ms-1. Tekanan transmembran dan laju alir umpan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai rejeksi pigmen fikosianin dan fikoeritin serta karaginan. Karaginan yang dihasilkan melalui proses mikrofiltrasi 0,1 mikron dapat memenuhi parameter yang ditetapkan FAO.

Diposting dari : www.faperta.ugm.ac.id

Categories: Abstrak Jurnal

PENINGKATAN NILAI TAMBAH TULANG IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp) MENJADI GELATIN SERTA APLIKASINYA PADA PEMBUATAN PERMEN JELLY

Mala Nurilmala1,Mita Wahyuni1 dan Teddy Kurniawan2
1) Staf Pengajar Departemen Teknologi Hasil Perairan, FPIK IPB
2) Alumni Departemen Teknologi Hasil Perairan, FPIK IPB

Tulang ikan kakap merah (Lutjanus sp.) merupakan limbah yang belum termanfaatkan dengan baik dan di dalamnya mengandung kolagen sehingga dapat dibuat gelatin. Penggunaan gelatin sudah semakin meluas, baik untuk produk pangan maupun non-pangan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisik dan sensorik permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah serta membandingkan permen jelly yang ditambahkan gelatin tulang ikan kakap merah dengan permen jelly yang ditambahkan gelatin komersial dan permen jelly komersial (Yupi). Perlakuan yang digunakan adalah penambahan gelatin dengan konsentrasi 8, 10 dan 12%. Pada pembuatan permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah, berdasarkan analisis fisik meliputi kekerasan dan elastisitas serta uji sensori meliputi parameter warna, bau, rasa dan tekstur permen jelly didapatkan perlakuan terbaik yaitu gelatin dengan konsentrasi 10%. Berdasarkan hasil penelitian ini, gelatin tulang ikan kakap merah dapat diaplikasikan dalam produk permen jelly. Berdasarkan uji fisiknya, permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah memiliki rata-rata nilai kekerasan 256,25 gf dan elastisitas 0,6548. Rata-rata nilai kadar gula total permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah 53,99%, rata-rata nilai aw permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah 0,79 dan rata-rata nilai pH permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah 3,63.
Kata kunci: tulang ikan kakap merah, gelatin, permen jelly

Diposting dari : www.faperta.ugm.ac.id

Pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sisa jamur merang (Volvariella volvacea)(TKSJ) sebagai pupuk organik pada pembibitan kelapa sawit

Utilization of spent mushroom (Volvariella volvacea) media derived from empty fruit bunches
of oil palm (SMEB) as organic fertilizer on oil palm seedling

Happy WIDIASTUTI & TRI-PANJI
Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor 16151, Indonesia

Ringkasan
Penggunaan bahan lignoselulosa sebagai medium jamur merang (Volvariella volvacea) diketahui dapat menghasilkan senyawa karbon rantai pendek demikian pula hara tersedia, sehingga diduga bahan ini dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian
tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sisa medium jamur merang (TKSJ) terhadap pertumbuhan dan serapan hara bibit kelapa sawit. Percobaan dilakukan di rumah kaca menggunakan tanah bereaksi masam. TKKS sisa medium jamur merang (TKSJ) sesuai dosis perlakuan dicampur dengan tanah dan selanjutnya bibit kelapa sawit
ditanam di polibag berukuran 60 x 50 cm.
Percobaan dilakukan untuk menguji 20 perlakuan yang merupakan kombinasi empat tingkat TKSJ (0, 25%, 50% dan 75% b/b) dan lima dosis pupuk konvensional (0, 25%, 50%, 75% dan 100%) dosis rekomendasi. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian TKSJ pada tingkat 25% dapat meningkatkan tinggi bibit, bobot basah akar,
batang, dan bibit serta bobot kering batang kelapa sawit. Namun, untuk peubah bobot kering daun diperlukan pemberian TKSJ yang lebih tinggi yaitu 50%. Pemupukan pada dosis 25% rekomendasi meningkatkan tinggi, bobot basah batang dan daun sedangkan untuk jumlah daun dan bobot basah bibit diperlukan dosis pupuk
50%. Serapan hara K dan Mg nyata lebih tinggi pada pemberian 75% TKSJ. Pemberian TKSJ pada jumlah yang tinggi (hingga 75% b/b) tidak menyebabkan penurunan berbagai peubah pertumbuhan dan serapan hara, namun pemberian pupuk 100% rekomendasi cenderung menurunkan berbagai peubah pertumbuhan dan serapan hara N, P, K, dan Mg bibit kelapa sawit.
Lihat Jurnal Lengkap

Penentuan Parameter Kinetika Proses Biodegradasi Anaerob Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Adrianto Ahmad
Laboratorium Rekayasa Bioproses, Jurusan Teknik Kimia, FT, Universitas Riau, Pekanbaru 28293
Diterima 24-10-2002 Disetujui 01-07-2003

ABSTRACT
Kinetic study of anaerobic biodegradable process of liquid waste from oil palm factory was carried out. Kinetic
parameters are important consideration in bioreactor design, especially maximum growth rate constant to determine residence time of minimum biomass. Residence time of minimum biomass is the most critical point of
bioreactor operation in a process of industrial liquid waste. In this research, kinetic parameters of anaerobic
biodegradable liquid waste of oil palm factory have been defined. The kinetic parameters are constant of half
saturated (KS), maximum specific growth rate (μM), amount of biomass obtained (Y), constant of microorganism death rate (kd) and constant of maximum substrate utilization (k) i.e. 1,06 g/l, 0,187 day-1, 0,395 gVSS/gCOD, 0,027 dayi-1 dan 0,474 day-1. Data was validated by relative error between total separated COD with total useful COD to be biomass and biogass which is less than 10%. Subsequently, kinetic parameters could be used in design of anaerobic baffled bioreactor system for oil palm factory’s liquid waste process. Lihat Jurnal Lengkap

DESAIN DAN PEMBUATAN ALAT PENGGILING DAGING

Charles Anson, Soejono Tjitro dan Stefanus Ongkodjojo
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Universitas Kristen Petra, Surabaya
E-mail: stjitro@petra.ac.id

ABSTRAK
Quality Function Deployment (QFD) adalah metodologi pengembangan yang cukup handal dengan rentang aplikasi yang luas. Makalah ini mempresentasikan kasus sederhana penggunaan metode QFD pada tahapan desain, detail dan proses produk penggiling daging sebagai alat untuk meningkatkan higenitasnya.
Tujuan utama dari QFD pada studi ini adalah untuk menerapkan desain yang berorientasi pada pelanggan dengan mengadaptasi beberapa matriks dan table pada tahapan-tahapannya. Tujuan yang lain yaitu untuk menguji kemampuan QFD pada proses perancangan sebuah penggiling daging. Prototipe yang dipilih untuk dikembangkan yaitu bagian ulir sebagai bagian utama dari sebuah penggiling daging dan hasil yang cukup signifikan telah didapat pada hal higenitas, ditandai dengan terpilihnya material yang kurang korosif yaitu paduan aluminium 514.0 sebagai material yang digunakan serta perbaikan nilai kekasaran permukaan sebesar 62.2 % dari produk yang telah ada dipasaran.
Lihat Jurnal Lengkap

CHARACTERISTIC PROBIOTIK BEVARAGE OF JUICE ALOE VERA WITH LACTI ACID BACTERIAL TYPE AND GELATIN ADDTION

Adha Panca Wardhanu1
1Alumni Institut Pertanian STIPER Jogjakarta

Abstract

The research was reduced to study the type of lactic acid bacteria which used gelatin addition in the production of probiotic beverage from aloe vera juice. The purpose of this research is two abtain the extract in production a preferable probiotic beverage.
Design experimental of this research was random complete block design with used two factors lactic acid bacteria kinds (K1 : Lactobacillus casei, K2 : Lactobacillus bulgaricus, K3 Streptococus thermophillus) as the first factor and gelatin addition (G1 =0,2%, G2 = 0,4%, G3 = 0,6) as the second factor. The characteristic of probiotic beverage from aloe vera juice was observed consiting or total lactic acid, pH value, viscosity, total lactic acid bakterila, anti microbial pathogen activities and organoleptic test of color taste flavor.
The result showed that type of lactic acid bacteria effected the pH value, viscosity, lactic acid and taste of aloe beverage, while gelatin addition effect color. The best trade ment based on over all score organoleptic test was of beverage probiotic of aloe vera juce with lactobacillus bulgaricus sulture and 0,2 % gelation addition.

Keywords : Lactic acid bacteria, probiotic, aloe vera, gelatin.

LIMBAH PADAT PENGOLAHAN MINYAK SAWIT SEBAGAI SUMBER NUTRISI TERNAK RUMINANSIA

Bambang Ngaji Utomo dan Ermin Widjaja
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah, Jalan G. Obos km.5, Palangkaraya 73111

ABSTRAK
Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah mempunyai potensi daya dukung untuk pengembangan peternakan, yaitu sebagai sumber pakan baik pakan hijauan maupun pakan dari limbah pengolahan minyak kelapa sawit. Salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah solid. Produksi limbah tersebut di Kabupaten Kotawaringin Barat mencapai 18−21 t/hari/pabrik. Bila limbah tersebut dimanfaatkan sebagai pakan, jumlah tersebut dapat menampung + 155.000 ekor sapi/hari. Solid mengandung bahan kering 81,56%, protein kasar 12,63%, serat kasar 9,98%, lemak kasar 7,12%, kalsium 0,03%, fosfor 0,003%, dan energi 154 kal/100 g.
Pemberian solid dalam bentuk segar secara ad libitum kepada sapi PO jantan memberikan pertambahan bobot badan harian (PBBH) 770 g/ekor/hari. Pada domba, pemberian solid 1% dari bobot badan, baik dalam bentuk segar, complete feed block (CFB) tanpa fermentasi maupun CFB fermentasi masing-masing memberikan PBBH 45, 64, dan 83 g/ekor/hari. Permasalahan utama pemanfaatan solid adalah tidak tahan lama disimpan. Masalah tersebut dapat diatasi dengan menyimpannya dalam kantong plastik dengan kandungan oksigen terbatas atau dibuat pakan blok. Pemanfaatan solid oleh petani dipengaruhi oleh sistem produksi ternak. Pemeliharaan ternak (sapi) sebagai usaha sambilan kurang menguntungkan apabila memanfaatkan solid sebagai pakan karena akan menambah biaya produksi, berupa biaya angkut dari pabrik ke lokasi peternak. Kondisi ini dapat menghambat adopsi teknologi pemanfaatan solid. Solid akan dimanfaatkan secara luas oleh peternak apabila pemeliharaan ternak bersifat komersial misalnya penggemukan. Strategi yang dapat ditempuh untuk memaksimumkan pemanfaatan solid sebagai pakan adalah melalui kemitraan antara petani dan pemerintah daerah ataupun pihak swasta.
Kata kunci: Elaeis guineensis, limbah pengolahan minyak, pakan, ruminansia