Di banyak negara miskin, kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (pertanian, perkebunan dan hutan) bertambah dengan cepat. Hal ini disebabkan karena pada umumnya tumpuan negara-negara ini bertumpu pada kedua sektor ini, sebab kurang lebih 40 % dari kesempatan kerja di dunia dan 50 % dari aktiva dunia berkaitan dengan sektor ini.
Dalam upaya manusia untuk memnuh kebutuhan pangannya, tanpa sadar manusia telah memberikan pengaruh dan dampak yang besar bagi lingkungannya. pengrusakan tanah muncul sebagai persoalan lingkungan tunggal yang paling serius di banyak negara berkembang sebagai dampak dari aktivitas pertanian. selain itu salah satu penyebab berkurangnya kawasan hutan dunia juga disebabkan oleh aktivitas pertanian yang berpindah-pindah. disebutkan juga bahwa bahan kimia pertanian semakin menjadi persoalan lingkungan di banyak negara berkembang, dan juga telah menjadi masalah gawat bagi kesehatan manusia. WHO mencatat bahwa 1,5 juta kecelakaan keracunan pestisida terjadi setiap tahunnya, dan sebagian besar berasal dari negara berkembang, yang sering tidak memiliki pelatihan dan peralatan yang dibutuhkan untuk melindungi peker
Bagaimana pun juga sektor pertanian tidak akan pernah kita pisahkan dalam kehidupan kita, setiap tahun, seiring dengan bertambahnya jumlah umat manusia, maka kebutuhan pangan pun turut meningkat. namun demikian, bukan berarti aktivitas pertanian yang dilakukan menjadi bisa menghalalkan segala cara untuk pemenuhan pangan tersebut, dan bukan berarti kawasan lindung kita terus meracuni lingkungan kita.
Boleh dikatakan tidak ada satu pun rumusan bantuan pada sektor ini yang sepenuhnya cocok dan telah dianggap bisa memecahkan segala bentuk persoalan di sektor pertanian dan kehutanan ini. pendekatan penyesuaian struktur dari bank dunia misalnya tidak memberikan bobot yang cukup bagi investasi disektor publik yang dibutuhkan untuk melindungi sumber daya di daerah pedesaan. sedangkan pendekatan teknologi nasional mengabaikan pertumbuhan penduduk pedesaan dan ketidakmampuan sebagian besar penduduk untuk terus melindungi sumber daya pedesaan dengan cara yang biasa. amatlah penting meningkatkan hasil pertanian dari tanah yang ” tahan” (resilien) untuk mengurangi beban pengolahan tanah yang rapuh.
Pemerintah akan memikul sebagian besar tanggung jawab untuk mendorong kemitraan antara petani dan peneliti, untuk mengembangkan program penyuluhan yang jauh lebih efektif, dan memastikan bahwa para petani mendapatkan bayaran hasil panen mereka dengan harga pasar dan memungkonknan perencanaan jangka panjang. dengan demikian, pemilihan tanah pertanian lestari, bahkan para petani daerah miskin pun dapat memproduksi hasil lebih dari cukup bagi penduduk yang makin banyak, dengan cara berkelanjutan.
Dewasa ini, di beberapa negara telah memasukan konsep pertanian berkelanjutan sebagai kebijakandi sektor pertaniannya, seperti dorongan untuk melakukan pertanian organik yang dilakukan di taiwan. konsep utama dari pertanian berkelanjutan ini mencoba melakukan upaya-upaya untuk melaksanakan empat tahapan utama :
- Integrated Pest Management (IPM), adalah upaya pengurangan pestisida dengan memanfaatkan predator alami sebagai pembasmi hama dan penyakit tanaman.
- Praktek-praktek manajemen laahn dan penggunaan lahan berdasarkan kandungan nutrisi lahan; hal yang dilakukan adalah seperti perotasian penggunaan lahan, dengan tujuan untuk menhindari terjadinya kehilangan unsur hara tertentu pada tanah.
- Seleksi tanaman yang berkelanjutan
_ Reformasi Ekonomi
Untuk bisa mewujudkan sebuah pertanian yang berkelanjutan tentu perlunya dorongan pemerintah untuk mensosialisasikan hal ini pada para petani, melalui penyuluhan dan bantuan yang tepat, misalnya pengawasan atas pemakaian bahan kimia secara berlebihan. Mengembangkan R & D sebagai upaya untuk mencari jalan menggantikan porsi bahan-bahan kimia tersebut sebagai zat gizi bagi tanaman.
Sumber :Surana T. Djajdiningrat dan Melia Famiola ( Kawasan INdustri Berwawasan Lingkungan)